Strategi Pergerakan Pelajar NU sebagai Upaya Optimalisasi Bonus Demografi

Pendahuluan

            Bonus demografi merupakan kenaikan dua lipat jumlah usia produktif bekerja (15-64 tahun), diiringi dengan penundaan pertumbuhan usia penduduk muda (di bawah 15 tahun), dan semakin sedikit jumlah penduduk manula (di atas 64 tahun)(Jati, 2015). Bonus demografi merupakan salah satu fenomena penting dalam kemajuan suatu negara. Hal ini dibuktikan melalui perkembangan berbagai negara di Asia Timur (terkhusus Jepang, Korea Selatan, China dan Hongkong) yang mampu mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi menjadi dua digit. Fenomena bonus demografi telah dialami Indonesia sejak tahun 2012 dan puncaknya diproyeksikan akan terjadi pada tahun 2038. Indonesia saat ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 270 juta, dengan persentase penduduk umur kerja (15-64) sebesar 72% atau sekitar 194 juta (BPS 2020). Hal tersebut mengindikasikan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi salah  satu negara East Asian Miracle. Namun perlu digarisbawahi bahwa, bonus demografi tidak menutup kemungkinan memberikan dampak negatif menjadi gelombang pengangguran massal dan semakin menambah beban anggaran negara jika investasi sumber daya manusia (human capital investment) khususnya pada pemuda tidak dilakukan secara optimal. Investasi SDM pada pemuda menjadi penting, karena pemuda merupakan aset terbesar bangsa sekaligus tumpuan harapan yang akan menegakkan kembali cita-cita bangsa, selain itu pemuda juga merupakan bagian dari roda perputaran zaman yang diharapkan kembali dapat menjadi agent of change. Peningkatan kualitas SDM ini menjadi tanggung jawab semua pihak, tak terkecuali pelajar Nahdlatul Ulama (NU). Gerakan pelajar NU merupakan organisasi yang bergerak dibawah naungan NU, yang merupakan organisasi islam terbesar di Indonesia sehingga memiliki tanggung jawab yang besar pula.

Pembahasan

Keberhasilan dalam memanfaatkan fenomena bonus demografi merupakan perkara yang cukup kompleks. Hal ini dikarenakan keberhasilan pemanfaatan bonus demografi berkorelasi kuat dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi mengindikasikan negara berhasil memanfaatkan bonus demografi. Negara Jepang misalnya, pada tahun 2020 telah  mencapai  angka pertumbuhan ekonomi sebesar 28,1% sedangkan Indonesia masih di angka -3,49%.

Pertumbuhan ekonomi sendiri merupakan akumulasi hasil dari berbagai sektor yang kebijakannya hanya dapat diputuskan oleh lembaga pemerintahan. Meskipun pengatur kebijakan utama dari pemerintah, bukan berarti sebagai pemuda lantas melepaskan tanggungjawab untuk ikut mengoptimalkan bonus demografi. Pada dasarnya pemuda memiliki peran yang penting untuk kemajuan bangsa Indonesia. Peran dan partisipasi pemuda saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal, apabila dibandingkan dengan pemuda di era pra dan pasca kemerdekaan. Pemuda saat ini sedang mengalami krisis karakter yang memprihatinkan, hal ini hanya akan menguntungkan segelintir orang yang berfikir tentang hegemoni dan kapitalisme (Edo, 2015). Jangan sampai bonus demografi menjadi kontra produktif, artinya semakin tinggi pendidikan semakin besar persentase lulusan yang menganggur. Akibatnya akan memunculkan pengangguran massal.

Peran organisasi kepemudaan saat ini juga sedang mengalami kemerosotan khususnya dalam membangun karakter pemuda, sehingga tidak dapat dipungkiri banyak pemuda Indonesia yang melakukan tindakan yang kurang etis, selain itu juga akan berdampak pada masa depan bangsa Indonesia mendatang.

Disinilah pelajar NU perlu berperan secara nyata. Pelajar NU merupakan bagian dari pemuda Indonesia, yang dituntut untuk selalu menyesuaikan diri terhadap segala perubahan.

Gerakan Pelajar NU atau biasa disebut IPNU (ikatan pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (ikatan pelajar putri Nahdlatul Ulama) sepatutnya memberi perhatian lebih pada peningkatan kualitas SDM, dengan tidak meninggalkan nilai religi dan budaya. Upaya yang dapat dilakukan, yaitu antara lain :

  1. Memaksimalkan kapabilitas diri

Pelajar NU hendaknya meningkatkaan soft skill dan hard skill  untuk menghadapi era yang akan datang. Terlebih setelah UU Ciptaker disahkan, kompetisi dunia kerja menjadi semakin ketat dan hanya orang-orang dengan kualitas SDM tinggi yang dihargai. Soft skill yang perlu dikembangkan kaitannya dengan peningkatan kualitas SDM adalah kemampuan memimpin, tanggung jawab, kerja dalam tekanan, dan produktif. Pembentukan hard skill sepatutnya dilakukan sesuai potensi dan bakat masing-masing. Perlu adanya kesadaran bahwa semua sektor kehidupan memiliki peran yang penting bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Bonus demografi diharapkan menjadi suatu titik awal pelajar NU unutk mulai mencari peluang yang terbuka lebar di berbagai sektor perekonomian, mulai dari pertambangan, pertanian, pendidikan, teknologi, entertainment, dan tekstil. Tingkatkan hard skill dengan belajar sungguh-sungguh, mengikuti berbagai pelatihan di daerah masing-masing, serta mencari referensi bacaan dari berbagai sumber yang ada.

  1. Menggunakan perkembangan teknologi secara bijaksana

Pelajar NU dewasa ini beranggotakan pemuda dari generasi Y dan generasi Z (Subandowo, 2017). Generasi Y dan generasi Z disebut sebagai generasi yang melek akan teknologi. Hal ini dapat dimaknai dengan dua persepsi. Pertama, bahwa pelajar NU sekarang memiliki banyak fasilitas untuk berkembang, karena akses terhadap literasi semakin luas, sehingga memudahkan peningkatan SDM. Kedua, bahwa pelajar NU sekarang menghabiskan banyak waktunya di depan layar handphone dan hanya menjadi generasi yang terjebak dalam dunia maya, dan mudah terhasut oleh berbagai berita hoax.  Penggunaan teknologi yang semakin maju perlu diimbangi dengan pengetahuan dan ketahanan diri. Hal yang perlu ditekankan pada teknologi yang selalu berkembang adalah gunakan seperlunya, namun manfaatkan semaksimal mungkin.

  1. Tidak menutup diri dari dunia luar

Perubahan akan selalu terjadi dalam berbagai sektor di Indonesia. Pelajar NU perlu membuka diri dan belajar berbagai sudut pandang. Keterbukaan merupakan salah satu kriteria yang diperlukan. Pelajar NU perlu mengobservasi berbagai kejadian dan trend yang terjadi baik itu dari dalam maupun luar negri, baik itu dalam maupun lintas organisasi. Hal ini diharapkan mampu membentuk pelajar NU menjadi pemuda yang berwawasan luas dan berpikiran terbuka serta kritis, sehingga mampu mencari peluang untuk mengmbangkan dan meningkatkan kualitas diri.

  1. Menumbuhkan jiwa enterpreunership

Perlu kita ketahui bahwasannya kondisi masyarakat Indonesia saat ini sangat vital bagi bangsa, di tengah bangsa yang berlimpah kekayaan sumber daya alam, rakyatnya sendiri masih banyak yang menjadi buruh. Pelajar NU perlu mengasah jiwa enterpreunership (berwirausaha) sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Pengenalan mengenai dunia bisnis dan memulai dari usaha kecil-kecilan sebagai salah satu program kerja organisasi adalah salah satu caara membangun jiwa yang bisnis tangguh. Karena walaupun emahami strategi wirausaha akan tetapi dia tidak berani terjun kedalam dunia usaha, maka proses wirausahapun tidak akan terwujud.

Faktor dukungan lingkungan menjadi salah satu faktor penting dalam optimalisasi bonus demografi di Indonesia. Sikap selektif pada lingkungan juga akan membentuk mental yang kuat sebagai bekal menjadi seorang pengusaha. Pilihan menjadi seorang pengusaha mengandung banyak risiko. Hal ini sesuai dengn ilmu ekonomi high risk high return (semakin besar risiko yang kita hadapi maka semakin besar imbalan yang dapat kita terima)­ (Hutagulung dkk, 2019). Fenomena ini jangan sampai membuat para  pelajar NU takut untuk maju, tetapi harus menjadi suatu tantangan yang harus dijawab. Banyak hal positif yang dapat diambil sebagai imbas keputusan untuk menjadi seorang pengusaha muda selain keuntungan yang bersifat materi. Dengan menjadi seorang pengusaha, maka secara otomatis kita akan berperan penting dalam jalannnya roda perekonomian. Sebab secara otomatis pengusaha akan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat dan meningkatkan GDP di negaranya.

  1. Ikut menyukseskan program pemerintah

Sebagai bagian dari rakyat Indonesia, pelajar NU sudah seyogyanya ikut serta berpartisipasi dalam kebijakan pemerintah. Salah satu yang dapat dilakukan adalah menginformasikan dan melaksanakan program yang telah dibuat. Salah  satu contoh kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM pemuda berupa Generasi Berencana (GenRe) yang diluncurkan oleh BKKBN sebagai salah satu institusi kependudukan yang menangani masalah remaja. Program GenRe bertujuan untuk menjadikan Tegar Remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari resiko Triad KRR (Seksualitas, HIV/ AIDS dan Napza), menunda usia perkawinan, mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera serta menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

Penutup

Dengan kesadaran dari pihak pelajar NU mengenai peluang dan tantangan adanya bonus demografi,  maka telah meminimalisir kemerosotan kualitas SDM pada generasi muda. Namun strategi menghadapi bonus demografi yang dipaparkan, perlu kiranya tetap sesuai dengan visi dibentuknya gerakaan pelajar NU. Selain memiliki kapabilitas dan kualitas yang elit, karakter pelajar NU harus dapat mencerminkan sosok manusia Indonesia yang berkepribadian Pancasila, yaitu (1) memiliki rasa percaya diri dan berpegang pada prinsip, (2) memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah, dan (3) memiliki kemandirian dan mendambakan kebersamaan. Pemanfaatan bonus demografi secara optimal akan membantu negara Indonesia mencapai targetnya sebagai Indonesia Emas pada tahun 2045.

 

 

 

Daftar Pustaka

EDO, Kalvin. Rekomendasi Kebijakan untuk Optimalisasi Bonus Demografi di Indonesia. Jejaring Administrasi Publik [internet]. Tersedia pada: http://journal. unair. ac. id/download-fullpapers-admp220116c9c7full. pdf, 2015.

JATI, Wasisto Raharjo. Bonus Demografi Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi: Jendela Peluang atau Jendela Bencana di Indonesia. Populasi, 2015, 23.1: 1-19.

SUBANDOWO, M. Peradaban dan Produktivitas dalam Perspektif Bonus Demografi serta Generasi Y dan Z. SOSIOHUMANIKA, 2017, 10.2: 191-208.

HUTAGALUNG, Muhammad Abrar Kasmin; FITRI, Rahma; RITONGA, Sri Rezeki Widya. Generasi Muslim Milenial dan Wirausaha. SINDIMAS, 2019, 1.1: 300-304

oleh : Ilham Satori

Marzuqi Rouf

_si.juki

Leave a Reply

Open chat
Butuh Bantuan?
Haiii.. Selamat datang di Website Resmi PW IPNU Jawa Tengah dan 180 Channel (IPNU Jateng Media Coorporation)

Ada yang bisa Admin bantu?

Info lebih lanjut silahkan klik tombol Open Chat