Sejuta Keberagamaan di Kaki Gunung Merbabu

Gunung yang berada di sebelah utara Gunung Merapi ini, ternyata menyimpan banyak cerita. Dimulai dari kisah-kisah mistisnya, hingga puluhan komunitas keagamaan tersimpan rapi di setiap penjurunya. Berada diantara wilayah Kab. Magelang, Kab. Boyolali, dan Kab. Semarang, menjadikan gunung yang dijuluki Merbabu ini memiliki banyak keanekaragaman budaya maupun agama. Salah satu wilayah di kakinya, Kota Salatiga, sempat mendapat julukan sebagai Kota Toleransi Jawa Tengah.

Kota kecil ini sempat menjadi icon Jawa Tengah dalam survey yang diadakan oleh Setara Institut pada tahun 2015 mengenai kota paling toleran se Indonesia. Dalam survey tersebut, Salatiga menduduki urutan kedua dari 94 peserta kota paling toleran, sedangkan urutan pertama dipegang oleh Pematang Siantar. Toleransi atas keberagaman dan keberagamaan yang terjadi memang menjadi ciri khas kota ini. Didukung dengan minimnya konflik SARA, kota ini menjadi destinasi wisata yang menyenangkan di wilayah Jawa Tengah.

Keberagamaan di kota yang luasnya hanya + 57 KM2 ini didukung pula oleh udara khas pegunungan. Menurut salah seorang psikolog, Harold M. Proshansky, suhu udara dapat memengaruhi pola perilaku masyarakat di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena suhu tubuh manusia melakukan adaptasi terhadap udara sekitar. Semakin tingginya udara atau suhu sekitar, mengakibatkan manusia memiliki agresifitas yang lebih tinggi (Proshansky, Basic Studies in Social Psychology: 1970).

Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKAUB) Kota Salatiga juga menjadi salah satu penggerak dalam terciptanya keberagamaan di kota ini. Terbukti dengan perayaan hari besar masing- masing agama yang boleh terlaksana di pusat kota tanpa harus merasa terusik oleh pemeluk agama lainnya. Bukti lain adanya keberagamaan juga terlihat dengan beberapa universitas yang menjadi motor penggerak agama di kota ini. Dimulai dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Sekolah Tinggi Teologi (STT) Efata, hingga Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) menjadi symbol nyata keberagamaan di kota yang hanya memiliki + 190.000 jiwa penduduknya.

Selain keberagamaan, keberagaman juga dibangun secara baik di Kota Salatiga. Hampir setiap bulan, terdapat karnaval budaya yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun instansi lainnya di Salatiga. Selain bertujuan untuk melestarikan budaya lokal yang ada, karnaval ini juga menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Karnaval ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mampir singgah dan menikmati pemandangan Gunung Merbabu.

Keberagaman dan keberagamaan Kota Salatiga menjadi corong, melihat Indonesia dari sisi terkecilnya. Mari berkunjung. (R. Hasan)

Terkait
Terbaru
Nutizen

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu