Pro Pancasila, Komunis, Jenggot, dan Isi Weteng. Nyambung?

Setiap satu oktober, masyarakat Indonesia pastilah merayakan hari kesaktian Pancasila. Tanggal itu dikukuhkan sebagai pengingat bahwa meski ada upaya pemberontakan, penggantian idiologi, tapi Indonesia masih tetap ngotot sebagai bangsa yang dipersatukan dalam ke-bhinneka-an dan bangsa yang kebanyakan rakyatnya menelan mentah-mentah sejarah dan pelakunya. Satu oktober dipergunakan pula bagi banyak orang untuk mengingat keberhasilan menyingkirkan PKI melalui upaya coup. Bertahun-tahun kemudian bahkan sampai saat ini, perayaan tentang hari kesaktian Pancasila melulu soal burung garuda, nasionalisme, dan tentu saja berdiri di tengah lapangan dan mengheningkan cipta. Mulai, Dengaaaan seluruuuuh bla bla bla.
 
Pancasila kerap menjadi alasan untuk menjaga persatuan, ia juga bisa digunakan untuk menjadi indikator layak tidaknya orang distempeli antek khilafah. Dalam urusan ini, hampir sefungsional jenggot lah dalam kekuatannya menggiring justice masyarakat awam kepada apakah ia Islam ketimurtengahan atau Islam Nusantara, islam pro republik atau pro makar. Namun pengecualian untuk M Imam Farouq dengan jenggotnya yang alamak, ialah pejuang Aswaja An-nahdliyyah yang berasal dari tlatah Dieng. Dan konon katanya di usia yang ke 27 belum bisa mengendarai Honda. Ehek
 
Kita tahu bagaimana orang Hizbut Tahrir Indonesia dianggap sekumpulan penggemar makar, penganut kesalah-fahaman berupa Indonesia belum merdeka, dan tentu pro khilafah. Kita juga tahu orang Papua yang teriak keadilan, Hak Asasi Manusia, dan kesetaraan juga dianggap organisasi rasis. Dan mirisnya mereka (Papua) dianggap anti Pancasila. Intinya, Pancasila mereka anggap sebagai ajian sakti mandraguna yang mampu meluluh-lantakkan orang-orang berisik, macam orang Papua, pro makar, maupun pro FDS. Ups
 
Namun sejatinya apakah pelajar BBB tahu, Pancasila diciptakan oleh siapa? Lagu Garuda Pancasila yang dinyanyikan oleh masa aksi 299 penolak kebangkitan PKI dan Perppu Ormas itu diciptakan oleh siapa? Ketidaktahuan sejarah, kemalasan mencari tahu, dan keterbatasan pola pikir kritis membuat kita berkeyakinan Pancasila sebagai idiologi Kun Fayakuun alias sekonyong-konyong. Bukan sesuatu yang dibangun secara kolektif dari berbagai kelompok masyarakat dari berbagai golongan, etnis, agama dan rujak banyak lagi.
 
Lagu Garuda Pancasila diciptakan oleh seniman Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) bernama Sudharnoto pada 1956, saat IPNU masih menjadi balita berumur 2 tahun dan IPPNU masih seumur jagung. Kita tahu bahwa Lekra adalah organisasi banom dari PKI. Ya memang agak absurd, ironis, massa 299 bersemangat menolak PKI namun menyanyikan lagu karangan seniman organisasi yang bernaung dibawah idiologi Komunis. Pe-a’ khan?
 
Begitulah, Peradaban nalar tahu diri memang susah dibangun diantara orang yang menganut fanatisme buta.
 
Lalu bagaimana dengan logo Garuda yang didadanya membusung gagah simbol lima-sila itu sendiri? Tak banyak orang Indonesia tahu bahwa lambang garuda merupakan rancangan Sultan Hamid II dari Pontianak. Dalam sejarahnya, setelah Republik Indonesia Serikat bubar ia mentas dari panggung politik (tertikung & tersingkir). Nama baiknya pun kian tercoreng karena tuduhan percobaan pembunuhan atas Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan dua bawahannya. Beliau yalah orang kontroversial yang jika dikonversikan ke zaman sekarang mungkin saja akan mirip Felix Siau, Ahmad Dhani. Bedanya? Tentu Sultan Hamid II tidak punya akun twitter sebagai alat berkeluhkesah dalam mengarungi liqo-liku sembilu dunia ini. Sakno…
 
Tentang Pancasila, kita sebenarnya kerap bersikap berbeda antara satu dengan yang lainnya, sikap galak terhadap orang-orang Papua yang dianggap anti Pancasila tidak segalak terhadap HRS yang pernah mengkritik Pancasila secara terbuka.
 
Lha ini baru simbol negara, belum lagi lagu nasional yang diciptakan oleh W.R. Soepratman diiringi kesekan biolanya, seorang muslim dari Ahmadiyah yang kelompoknya kerap diganggu, dikafirkan, direndahkan, serta disakitty oleh sekelompok yang mengaku pro pancasila.
 
Bukankah dalam kepaknya Garuda tersatukan bangsa-bangsa dari ujung barat sumatera sampai batas negara bagian timur Indonesia? Bukankah dalam setiap kolom yang berjumlah lima itu ialah cita-cita setiap umat manusia? Bukankah dalam perisai yang membusung di perut dada garuda itu terwakili falsafah dan dasar negara yang kita bela? Yang olehnya terlindungi hak-hak sebagai warga negara, rakyat dan sebagai masyarakat yang bergotong-royong. Dan karenanya pula, setiap rakyat harus terjamin ­isi weteng-nya. Unch.
 
Membacalah!!!
Terkait
Terbaru
Nutizen

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu