Artikel PilihanKolom Alumni

Menjadi Generasi Pem(belajar) di Era Big Data

28views

Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang sangat pesat, penelitian-penelitian terus bergerak cepat di setiap detik, negara negara di belahan dunia saling berlomba untuk memberikan sumbangsing keilmuan dan kemajuan peradaban, teknologi meniadakan ruang dan waktu, semua tercipta untuk memenuhi kebutuhan, melayani dan memahami manusia.

Manusia terlahir mengikuti zamannya (mulai zaman pra sejarah, zaman informasi sampai zaman big data), generasi silih berganti (mulai dari generasi X, Y sampai Z) yang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, Indonesia saat ini dan tahun-tahun ke depan dianugerahi bonus demografi (fenomena jumlah penduduk usia produktif lebih banyak, sedang usia non produktif lebih sedikit) yang bisa menjadi berkat ataupun laknat.

Keberkahan bonus demografi tersebut bisa disiapkan melalui dunia pendidikan untuk meng-upgrade sumber daya manusianya melalui pendidikan, “Kita ditakdirkan mendapatkan bonus demografi bukan karena KEBETULAN, tapi karena DITAKDIRKAN” (M.Nuh, 2016), untuk itu perlu disiapkan strategi yang tepat untuk membawa Indonesia menjadi Mercusuar Dunia.

IPNU-IPPNU yang mempunyai basis pelajar sudah semestinya bergerak cepat menjadi generasi Z yang smart cerdas dan multitasking, kepekaan untuk selalu bisa membuat trend center sangat diperlukan untuk melayani dan memahami generasi sekarang ini, siapa yang mampu membuat trend dia akan selalu diikuti.

Untuk membuat trend center diperlukan kepekaan dalam memahami kebutuhan pelajar saat ini, pelajar yang menghabiskan waktu dengan smarth phonenya, menghabiskan waktu di sosial media, generasi instan, harus mampu direspon cerdas oleh IPNU-IPPNU untuk berinovasi, jika tidak mampu melakukan hal tersebut bisa jadi organisasi IPNU-IPPNU akan sepi dan tidak diminati lagi.

Untuk menjawab tantangan tersebut di atas diperlukan beberapa strategi langkah sebagai berikut: Pertama, kader IPNU sudah saatnya mempunyai biground pendidikan (formal atau nonformal) yang cukup, baik pendidikan tentang tafaqquh fiddin maupun pengetahuan umum lainnya, di Indonesia sepandai apapun orang tersebut jika belum mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi belum diakui kepandaiannya, kalau generasi sekarang rata-rata mempunyai gelar strata satu (S1), kader muda NU (IPNU-IPPNU dll) sudah saatnya lebih dari itu, melimpahnya beasiswa strata dua dan tiga baik di dalam maupun di luar negeri (mulai dari Beasiswa LPDP [Kementerian Keuangan], Beasiswa Unggulan [Kemendikbud, Kemenristekdikti], Beasiswa Program Santri Berprestasi, Beasiswa Mora 5000 Doktor [Kemenag RI) harus dimanfaatkan dan ikut ambil bagian di dalamnya.

 

Kedua, keluar dari zona nyaman, “Hanya Orang Gila yang menginginkan hasil yang BERBEDA namun Setiap harinya melakukan hal yang SAMA” (Albert Einstein), dibutuhkan keluar zona nyaman, bekerja keras, agar mendapatkan hasil yang berbeda, seorang pelaut hebat dilahirkan dari kejamnya gelombang samudera, bagai seekor ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu.

Ketiga, berkolaborasi, zaman dulu banyak orang berfikir menang-kalah sehingga banyak tercipta sistem kontestasi yang tinggi, persaingan, saling menjatuhkan satu sama lain, zaman sekarang (big data) bergeser dari fikiran menang kalah menjadi fikiran menang-menang (win-win) untuk itu diperlukan kemampuan untuk berkolaborasi, bersinergi kepada siapapun agar tercipta sesuatu keindahan bagai keindahan suara orkestra yang bisa menyatukan berbagai macam alat musik yang berbeda.

Keempat, Kemampuan berjejaring, dalam surat Ali Imron:103 “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” mempunyai makna mendalam tentang makna berjejaring dan kerja sama.

Kelima, berani riyadloh, riyadloh di sini berarti berani tirakat (bersama Kiai, habaib yang mempunyai sanad keilmuan jelas) menunda kesenangan baik secara dhohir maupun batin, bisa dengan cara berpuasa, qiyamul lail, dan lain sebagainya, orang yang ingin mendapatkan sebuah mutiara tidak cukup hanya berdiri di tepi pantai, orang tersebut harus berani berkelana di atas lautan kemudian berani menyelam untuk mendapatkan mutiara tersebut.

Semoga Harlah ke 63 tahun IPNU dan 62 tahun IPPNU ini bisa kita jadikan sebagai momentum “arus balik” IPNU-IPPNU yang mampu menjadi organisasi pelajar paling berpengaruh dan mampu menjadi trend center pelajar Indonesia dalam rangka meneguhkan 1 abad Nahdlatul Ulama untuk meneguhkan Islam Nusantara sebagai Pusat Peradaban Dunia, Selalu Belajar, Berani Berjuang dan Selalu Bertaqwa, Salam 3B. Wallahu a’lam.

 

*Ketua PC IPNU Kab. Pati 2009-2011, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Sedang Menempuh S3 Teknologi Pembelajaran di Universitas Negeri Malang.

Leave a Response