Melahirkan Kembali Pak Tolchah

Mungkin saya, hanya satu dari sekian banyak kader IPNU yang ‘kepaten obor’. Dalam hal ini, karena minimnya pengetahuan tentang sejarah organisasi itu sendiri dan juga minimnya pengetahuan akan tokoh-tokoh pendirinya. Salah satunya, tentu saja KH. Tolchah Mansoer. Padahal, mempelajari sejarah sama halnya dengan ikhtiar untuk menjalankan organisasi yang sesuai dengan arah perjuangan dan cita-cita para pendirinya. Buku “KH. Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan”, menurut saya adalah buku bacaan wajib untuk kader IPNU yang selama ini lebih mudah mabuk dengan bacaan-bacaan tentang tokoh lain. Setelah membaca buku tersebut, saya merasakan semangat yang berlipat-lipat untuk semakin kukuh memperjuangkan IPNU dimanapun saya berada. Berikut saya tulis ulang, Epilog buku tersebut yang ditulis oleh senior kita  Idy Muzayyad, M.Si (Ketua PP IPNU 2006-2009). Sekali lagi, jangan lupa untuk membaca tuntas keseluruhan isi buknya. Semoga bermanfaat!

… berdirinja organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama’ tidak hanja sekedar mengumpulkan kawan baik dari pesantren, dari sekolah2 menengah Nahdlatul ‘Ulama’ dan umum ataupun dari universitet2.

Bukan hanja itu. Ada dasar jang bersifat ideologisch jang menyebabkan dia tumbuh. Dia mempunjai sebab dan memiliki principe ideologisch jang memerlukan ideologiese dranger jang melaksanakannja walau bagaimana djuga zaman dan orang berkata tentangnja … (Moh. Tolchah Mansoer)

***

Lahirnya buku ini melahirkan dua kutub persepsi yang berseberangan; rasa bangga sekaligus rasa malu. Mengapa? Ada rasa bangga dengan buku ini kita sebagai generasi muda NU, khususnya IPNU, mengetahui bahwa dalam sejarah awal organisasi pelajar ini terdapat seorang tokoh yang patut dibanggakan, yakni Moh. Tolchah Mansoer. Di samping ikut merintis, ia memimpin organisasi ini pada tiga periode awal (1954-1961).

Namun, disisi lain, dengan membaca buku ini kita juga patut merasa malu, karena sebagai pewarisnya kita belum mampu sepenuhnya meniru prestasi sebagaimana yang dicapai olehnya. Jangankan melebihi, sekedar menyamainya atau bahkan sedikit mendekati capaiannya saja, kita merasa kewalahan alias belum mampu. Termasuk secara pribadi, sebagai Ketua Umum PP IPNU (2006-2009), saya benar-benar merasa bukan apa-apanya jika dibandingkan dengan sosok dia yang tergolong luar biasa.

Meskipun waktu tidak mempertemukan saya langsung dengan Pak Tolchah (biarlah saya menyebutnya begitu), namun ketokohan dia terus membayang. Kebetulan saya banyak bersentuhan dengan ruang dan dimensi dimana pada masa lalu Pak Tolchah bersentuhan dengan semua itu: Yogyakarta. Keberadaan saya sebagai mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga (1995-2003), sekretaris PC IPNU Kota Yogyakarta (1998-2000) dan Ketua PW IPNU DIY (2001-2003) mendorong saya untuk dikenalkan dengan sosok Pak Tolchah. Apalagi saya juga kenal baik dengan salah satu putri dia, Choirotun Chisaan yang aktif sebagai Ketua PW Fatayat NU DIY, karena sering ‘ngantor’ bersama di sekretariat GMNU DIY, di Sodagaran (sebelah Tompeyan). Bersit keinginan menulis biografi tentang Pak Tolchah sudah ada saat itu, namun baru sebatas impian.

Maka segera setelah kepengurus PP IPNU masa khidmat 2006-2009 dilantik, keinginan menjawab rasa penasaran sekaligus penghormatan terhadap Pak Tolchah kemudian mendorong saya untuk menunjuk tim penulis agar bekerja seperlunya untuk menulis biografi. Kebetulan juga, sebelum ini belum pernah dibuat biografi Pak Tolchah yang komprehensif. Entah kenapa. Ataukah benar perkataan sebagian senior yang menyebutkan Pak Tolchah sebagai “Tokoh Yang Terlupakan” seperti yang dituliskan Mas Slamet? (Slamet Effendy Yusuf-ed.)

Padahal, dengan menelusuri kehidupan Pak Tolchah, akan tersingkap juga sejarah dan kenangan hampir semua aktivitas NU yang tumbuh dan berproses di Yogyakarta. Tampaknya, semua mantan aktivis NU alumnus Yogyakarta pasti bersentuhan dengan Pak Tolchah. Sebab, dialah bapak aktivis NU kala itu. Wajar bila para senior alumni Yogyakarta yang sudah ‘menjadi orang’ di mana-mana saat ini, merespon dengan baik dicampur haru ketika dimintai kontribusi tulisan dan kesaksian untuk kelengkapan buku ini.

Dari garasi rumah yang disulap menjadi forum kajian rutin, Pak Tolchah tak lelah melakukan kaderisasi. Seperti dikisahkan oleh Pak Abdullah Syarwanie, garasi rumah di komplek Colombo sebulan sekali disulap menjadi ruang pengajian untuk pendidikan sosial dan politik. Kalau diresapi secara benar, sebenarnya apa yang dilakukan Pak Tolchah merupakan bentuk kaderisasi kepemimpinan NU, sehingga hampir semua aktivis NU Yogyakarta dalam kurun waktu 1970-1980 merupakan besutan Pak Tolchah. Hal seperti inilah yang jarang dilakukan oleh tokoh zaman sekarang, yang mungkin lebih asyik dengan ‘dunia’nya sendiri.

Melalui buku ini kita dibawa ke masa lalu kehidupan Pak Tolchah yang penuh dengan keteladanan, pengalaman dan cita-cita besar. Banyak Uswatun Hasanah yang bisa kita pelajari dan kita jadikan rujukan dalam mengarungi emdan perjuangan yang masih sangat panjang. Membaca buku ini berarti menyelami masa lalu, sekaligus “menghadirkannya” di masa sekarang untuk menumbuhkan inspirasi bagi generasi ktia dan mendatang.

Sebagaimana diketahui, Pak Tolchah adalah seorang founding fathers terpenting dalam organisasi IPNU. Ia merupakan pelopor, pendiri dan penggerak pada masa awal berdirinya. Menurut data sejarah, idealisme IPNU merupakan refleksi dari idealisme Pak Tolchah. IPNU dicita-citakan olehnya menjadi wadah bagi pelajar umum dan pelajar pesantren. “Pertemuan” kedua kekuatan ini, dalam pandangannya, akan menjadi kekuatan kaderisasi yang penting dalam pengembangan jam’iyyah NU. Ia memegang teguh pendirian ini. Lebih dari sekedar visi organisasi, komitmen itu seolah melekat dalam dirinya. Pak Tolchah merupakan sosok ilmuwan sekaligus santri.

Berawal dari kegelisahannya IPNU didirikan. Berbekal semangat ideologi Ahlussunah wal Jamaah, ia bersama teman-temannya mendiskusikan, merancang, dan merumuskan organisasi pelajar sebagai rumah kader Nahdliyyin. Di kawasan Bumijo, dekat Tompeyan Yogyakarta, mereka mendesain organisasi pelajar NU. Saat penulis masih tinggal di kawasan tersebut (selama menjadi pengurus PW IPNU Yogyakarta saya tinggal di daerah Tompeyan) saya menyadari betul, betapa sulitnya mendirikan organisasi kepelajaran Nahdlatul Ulama di luar daerah basisnya.

Siapapun akan tahu bahwa Yogyakarta adalah tempat bersemainya Muhammadiyah. Tetapi justru disitulah Pak Tolchah mampu bangkit dan bergerak bersama rekan-rekannya menapaki tangga organisasi demi memperjuangkan panji-panji Ahlussunah wal Jama’ah. Inilah yang dimaksud oleh Pak Tolchah bahwa berdirinya IPNU bukanlah semata wahan ‘kumpul bocah’, yakni sekdar bertemunya anak-anak NU dari pesantren dan sekolah. Terdapar sabab-al wurud yang jelas, yakni perjuangan untuk menyelamatkan kader-kader muda NU agar tetap pada jalur ke-NU-annya dan tidak terpengaruh oleh ideologi-ideologi dari komunitas ‘tetangga sebelah’ yang tidak relevan dengan garis ideologis NU. Dalam hal ini, IPNU dalam gagasan Pak Tolchah berperan sebagai ‘juru selamat’ bagi kader-kader muda NU agar tidak tercerabut dari akar ideologi aswaja.

Untuk konteks hari ini, ancaman dari ideologi terhadap generasi muda NU terasa makin gencar. Barangkali ada pengulangan sejarah sebagaimana dulu yang dirasakan Pak Tolchah. Ancaman terhadap faham ‘Islam Tengah’ oleh kelompok yang condong ke arah fundamentalis maupun liberalis semakin nyata. Oleh karena itu, IPNU seyogyanya tampil di depan untuk tetap menjaga agar kaum muda Islam di Indonesia tetap berada dalam garis moderasinya, yakni dengan semangat tawasuth, tawazun, tasamuh, i’tidal serta amar ma’ruf nahi munkar.

Kontestasi beragamnya ideologi, terutama yang bernuansa tathorruf (ekstrim) baik kiri ataupun kanan, baik tasyaddud maupun tasahhul secara langsung akan menggerus ideologi tengah yang dianut oleh NU. Ancaman itu semakin nyata ketika ekspansi ideologi berkarakter Timur Tengah dan Barat mengepung secara bersamaan, sehingga cukup menggelisahkan suasana kebatinan kaum nahdliyyin yang berimplikasi pada bergesernya pola pikir dan pola tindak mereka.

Disamping itu, IPNU perlu terus berevolusi untuk menjawab problem sosial. IPNU didirikan tidak sekadar sebagai ikatan kosong tanpa visi dan orientasi. Ikatan pelajar ini juga bukan sekadar paguyuban pecinta Nahdlatul Ulama. Tetapi IPNU didirikan dengan semangat perjuangan dan pengabdian. Semangat untuk memperjuangkan hak-hak kaum pelajar. Semangat untuk mengabdikan diri pada kemaslahatan umat. Oleh karena itu, bila kader tidak siap untuk berjuang dan mengabdi maka dia akan tersingkir oleh sejarah panjang IPNU. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dalah ruang yang elegan untuk belajar, berjuang dan bertakwa bagi setiap kader muda NU.

Pak Tolchah mengajarkan kepada kita bagaimana laku perjuangan dalam berorganisasi. Di tengah arus politik aliran yang cukup kuat, dia tetap tegar mendirikan cabang-cabang IPNU di berbagai daerah. Ia sangat bersahaja, berpenampilan sederhana, naik-turun angkutan untuk datang ke berbagai daerah dalam rangka menyebarkan semangat berjuang bagi kaum muda NU. Masa mudanya dihabiskan untuk perjuangan kaum muda pelajar NU, bahkan hingga tua dan meninggalnya, Tolchah merupakan sosok pemikir terdepan di kalangan Nahdlatul Ulama.

Satu hal yang cukup menarik untuk diungkap secara khusus, dia bukanlah putra mahkota dari pesantren ternama. Bukan pula putra saudagar atau bangsawan kaya raya. Tapi dia lahir dari seorang pedagang kecil disudut Pasar Besar Malang. Namun justru karena itulah kearifannya ditempa dan terbangun menjadi sosok yang idealis dan visioner. Asalnya dari kalangan masyarakat sederhana itulah, yang menyebabkan dia bisa bergaul tanpa rasa sungkan dan pakewuh, disertai dengan penuh ketakziman.

Di tengah zaman pancaroba, Pak Tolchah dididik dan dibesarkan orang tuanya. Dia ikut berjuang dalam barisan pasukan Republik. Pak Tolchah menikmati lukanya ketika harus meninggalkan sekolah karena Agresi Belanda II. Dia memahami masa-masa sulit tersebut, sebagaimana dia memahami dirinya sendiri. Di tengah kemelut itu, dia tetap belajar. Belajar kepada kearifan-kearifan yang dijumpainya. Belajar pada ibu, ayah, kakak dan guru-gurunya. Belajar pada kearifan alam, kearifan sosial dan belajar kepada kesahajaan masyarakat disekitarnya. Inilah pak Tolchah, yang terus mengambil hikmah meski di masa sulit.

Pada tahapan berikutnya, dia menjadi pribadi yang bersahaja dan arif, sekalipun kedudukan dan posisinya sangat membanggakan. Pak Tolchah tetap mencintai masyarakat dan umatnya. Dia mewakafkan hidupnya untuk Nahdlatul Ulama, mengabdikan diri untuk kemaslahatan warga NU. Siapapun yang mengenal pribadinya secara langsung akan terkenang dan merekam segenap kebaikan dan perjuangannya. Tokoh ini adalah ayah yang hangat, kakak yang perhatian, saudara yang meynenangkan, santri yang penuh ketakziman, guru yang mencerahkan, sahabat yang membanggakan dan pemimpin yang membahagiakan.

Sekarang pribadi yang mengagumkan tersebut telah lama berlalu. Generasi kita hanya ditinggali rekam jejaknya yang luar biasa dalam berjuang dan mengabdi kepada umat. Dan sekali lagi, kita hanya dapat meneladaninya sebagai bukti kecintaan kita terhadap Ibnu Mansoer tersebut. Meneladani apa yang telah menjadi laku perjuangannya. Meneladani apa yang telah menjadi pemikiran-pemikirannya. Dan meneruskan semangat pengabdiannya untuk berkhidmat kepada IPNU, berkhidmat memperjuangkan ajaran ahlussunah wal jama’ah.

Pertanyaannya, mampukah kita? Setelah hampir 55 tahun IPNU didirkian, semangat membara tersebut terus berkobar menerangi anak zamannya. Sudah menjadi keharusan bagi IPNU hari ini, untuk terus melanjutkan perjuangan para pendahulunya, dalam bentuk upaya menyiapkan diri untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan dalam Nahdlatul Ulama, dan menyiapkan kader masa depan dengan lebih baik. Kita rindu dengan pak Tolchah, dan berharap kelahiran Tolchah-Tolchah yang lain untuk perjuangan IPNU di masa yang akan datang. Rasa-rasanya, inilah bentuk penghormatan kepada orang tua, pendahulu kita: melanjutkan perjuangan mereka.

Mengagumi masa lalu, membanggakan sejarah, menghormati pendahulu, bukan semata romantisme. Kita tidak boleh hanya berhenti pada maqam ‘termenung’ dengan masa lalu itu, namun kita seharusnya tergerak untuk melakukan sesuatu. Arinya, perlu ada gerakan yang dilakukan oleh IPNU masa kini, dengan berbasis refleksi sejarah masa lalu.

Pola gerakannya sudah digariskan oleh ulama NU, yakni al muhafazhah ‘ala al-qadim ash’shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Kita patut melestarikan hal-hal baik yang sudah dicapai, sembari melakukan inovasi terhadap hal-hal baru yang lebih baik lagi. Pola atau formula ini penting, mengingat tantangan zaman yang kita hadapi saat ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada saat Pak Tolchah masih hidup dan berjuang.

Zaman yang berubah, tentu memerlukan penyikapan yang berbeda. Spirit yang telah ditanamkan Pak Tolchah tetap akan menjadi pijakan, namun tidak bisa diterapkan secara ‘begitu saja’, melainkan kita kontekstualisasikan dengan perkembangan hari ini. Apalagi tantangan yang diahadapi generasi saat ini, dalam banyak sisi lebih berat dibanding tantangan yang dihadapi generasi lalu. Oleh karena itu diperlukan keteguhan memgang prinsip ditambah dengan kreativitas serta kelihaian dalam berselancar di gelomzang zaman baru.

Mari kita songsong masa depan, sambil belajar pada kearifan pendahulu kita pada masa lalu, salah satunya adalah kepada “sang Pelopor”, Allahu yarham, Pak Tolchah. []

Terkait
Terbaru

More Similar Posts

Menu