Media Sosial, Toleransi dan Perdamaian

Ilmu Teknologi berkembang sangat pesat, meninggalkan siapapun yang bersikeras untuk menolak mengamininya. Meskipun rotasi bumi pada porosnya berlangsung normatif, tetapi fakta bahwa ilmu teknologi mengalami percepatan adalah keniscayaan yang sukar untuk dielakan. Bagaikan gayung bersambut, peradaban manusia telah bergerak menuju pada pendekatan yang cenderung instan dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Akibatnya, manusia memiliki ketergantungan yang besar terhadap pola kerja ilmu teknologi. Pemanfaatan ilmu teknologi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan menjadi salah satu pemicu terbesar terjadi fenomena ini. Diantara pemanfaatan ilmu teknologi yang paling sering digunakan manusia adalah internet. Jika pada awal milenium internet masih barang mewah, kini internet hampir sudah dapat diakses hampir disebagian besar wilayah Indonesia. Seiring jumlah pengguna internet yang mengalami pertumbuhan besar, pemanfaatan internet berkembang merangkul semua lini dalam mencukupi kebutuhan manusia. Internet seolah menjadi gudang serba ada yang menyediakan begitu banyak informasi yang dibutuhkan manusia. Kemajuan penggunaan internet membuat luasnya dunia seolah ada digenggaman setiap pemakainya, karena jangkaunya yang memang sangat kompleks. Salah satu pemanfaatan teknologi internet yang dewasa ini semakin masif adalah media sosial.

Media sosial merupakan situs dimana seseorang dapat membuat webpage pribadi dan terhubung dengan setiap orang yang tergabung dalam situs yang sama untuk berbagi informasi serta berkomunikasi. Media sosil menawarkan ruang yang tanpa batas kepada penggunannya untuk berpartisipasi dalam membagikan informasi dan menanggapi informasi. Pesatnya perkembangan media sosial saat ini tidak lepas dari gaya hidup masyarakat yang sukar dalam bersosialisasi secara langsung, maka media sosial dianggap menjadi wadah paling tepat untuk mengeksplorasi diri dihadapan khalayak. Disamping itu, penyedia jasa layanan media sosial juga terus berimprovisasi untuk memperbaiki situsnya. Mereka berlomba-lomba menawarkan fitur-fitur terbaik untuk dijadikan pilihan utama dalam penggunaan media sosial. Saat ini media sosial yang paling banyak diakses oleh pengguna antara lain; Facebook, Twiter, Instagram, Path, BBM, WA dan masih banyak media sosial lain yang masing-masing memiliki fitur unggulan. Beriringan dengan semakin masifnya penggunaan media sosial, pemanfaatannya menjadi meluas kebeberapa sektor lain, diantaranya; perdagangan, hiburan, jasa, kuliah vitual, dan manfaat lain yang nyaris tanpa batas.

Pelajar adalah seseorang yang sedang dalam proses belajar. Pelajar NU adalah pelajar secara umum hanya saja orang tersebut adalah bagian dari keluarga besar NU. Pendidikan adalah tumpuan utama kemajuan sebuah bangsa, semakin baik pendidikan sebuah negara maka semakin banyak pula individu yang memiliki kompetensi unggul untuk melanjutkan cici-cita bangsa. Pelajar NU yang dalam pergerakannya memberi porsi pada bidang pendidikan sangat banyak telah menunjukan eksistensinya dalam turut aktif dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengawalan Pelajar NU dilakukan hampir diseluruh sekolah yang dalam naungan LP Ma’arif, ditambah dengan pondok pesantren yang berhubungan baik dengan Nahdlatul ‘Ulama. Dalam banyak kesempatan Pelajar NU terus menyuarakan dikalangan internal untuk terus meningkatkan pendidikannya, baik secara formal maupun non formal. Pelajar NU dalam dunia pendidikan menitik beratkan pada keseimbangan antara akhlak dan akademis, artinya kemampuan belajar ilmu umum diimbangi dengan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menjadi sangat penting, karena pembentukan akhlak pelajar sedari dini membuat sikap dan prilakunya terarah pada hal-hal yang baik.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menuntut Pelajar NU untuk larut dalam arus modernisasi, dimana berbagai macam aktifitas dilalukan dengan memanfaatkan ilmu teknologi terutama internet. Internet nyatanya telah mampu menyediakan beberapa penunjang dalam aktifitas didunia pendidikan, antara lain; bahan materi, email, ebook serta yang paling baru penggunaan internet dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Secara alami, internet telah menyatu dengan tatanan proses menuntut ilmu Pelajar NU. Selain sebagai penunjang dalam kegiatan pedidikan, Pelajar NU kerap kali memanfaatkan internet sebagai tempat untuk bersosialisasi atau berhubungan dengan dunia disekitarnya. Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam gaya hidup sebagian besar Pelajar NU. Selain fungsi utamanya sebagai wadah untuk bersosialisasi, media sosial juga dimanfaatkan Pelajar NU dalam mengikuti perkembangan isu nasional. Yang terhangat adalah isu pergeseran model demokrasi bangsa ini yang cenderung menunjukan mosi tidak percaya terhadap penyelenggara hukum. Hal yang terkait kemajemukan ini benar-benar menjadi pemicu luar biasa dalam kejadian akhir-akhir ini, yang mengerucut pada tindakan intoleransi.

Tasamuh, berasal dari Bahasa Arab yang berarti “Toleransi”, sedang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) toleransi adalah suatu sikap menghargai pendirian orang lain (seperti; pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian diri sendiri. Dari pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa toleransi mengandung sifat-sifat seperti lapang dada, tenggang rasa, menahan diri, dan tidak memaksakan kehendak. Dewasa ini, bangsa Indonesia sedang dalam ujian pendewasaan dalam peningkatan sikap toleransi antar sesama. Kagaduhan yang menyeruak kedalam sosial masyarakat menjadi isu sensitif karna menyangkut kemajemukan. Warisan paling indah dari pendiri bangsa ini yang sekarang sedang diuji oleh Sang Khalik. Bahwa tidak bisa dipungkiri, bangsa ini memiliki kebhinekaan yang oleh para pendiri bangsa dijadikan sebagai pondasi utama penyangga persatuan dan kesatuan. Entah siapa dan bagaimana, tiba-tiba bangsa ini menolak perbedaan, mengatas namakan Tuhan sebagai dalih untuk merasa paling benar. Maka, disinlah Nahdlatul Ulama menunjukan keistimewaanya, dengan kesejukannya saat Rais Aam PBNU mendadak meng-NU-kan bumi nusantara. Benar ada pihak-pihak yang berupaya membuat NU murka, tapi justru sebaliknya. Ulama Nusantara menyerukan semua warga Nahdliyin untuk menahan diri dan tidak mudah terprovokasi. Nilai-nilai yang demikian membuat NU makin kuat, makin solid dan makin sulit dipecah-belah. Keutuhan NKRI adalah harga mati bagi warga nahdliyin, tidak hanya teriakan retorika, tetapi implementasi nyata. Semoga bangsa Indonesia lulus dalam ujian pendewasaan ini, menuju bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Aamiin.

Bagaikan dua sisi mata uang, selain memiliki beberapa manfaat, media sosial juga menjelma menjadi mesin kejahatan. Salah satu yang saat ini sedang ramai dibicarakan adalah Hoax atau berita palsu. Hoax merupakan usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, sedangkan pembuat berita tersebut mengetahui bahwa sesuatu tersebut adalah palsu. Kondisi yang demikian menjadi penting untuk memberikan pembelajar kepada seluruh masyarakat tentang kewajiban menahan diri untuk tidak menyebarkan berita palsu melalui media sosial. Kelemahan media sosial dalam menyaring keabsahan berita menjadi permasalahan serius, karna setiap orang dapat menjadi orang lain dalam membagikan berita, kemudian menghilang tanpa ada pertanggungjawaban. Maka menjadi suatu keniscayaan, bahwa setiap pembagian berita dalam sosial media memiliki kebenaran yang hakiki sehingga tidak memperkeruh keadaan. Pembagian konten haruslah mengalami tahap analisa yang mendetail, sumber berita juga didapat dari pihak yang memang bersentuhan langsung terhadap peristiwa tersebut. Caption tidak ditulis kontroversial dan mengandung unsur penafsiran ganda. Penting pula untuk tidak menulis dengan kalimat kasar dan provokatif yang mengudang perpecahan. Dalam hal ini, kontrol terhadap Hoax murni milik setiap individu yang masih percaya terhadap keindahan dalam kemajemukan. Mempertimbangkan dengan bijak setiap konten yang akan dibagikan, agar memberi manfaat terhadap masyarakat secara luas. Etika dalam pembagian berita adalah kewajiban setiap individu yang harus ditingkatkan bersama-sama. Perlu diingat bahwa tugas menjaga keutuhan NKRI merupakan tanggungjawab setiap warga Indonesia, sebagai wujud nyata dalam menjaga perdamain dunia.

Hadirnya media sosial dalam perkembangan ilmu teknologi adalah hasil kerja keras manusia dalam mempermudah sosialisasi dan komunikasi antar sesama. Kemudahan itu bertujuan untuk mempererat hubungan manusia yang terpaksa dipisahkan oleh jarak. Agar yang jauh terasa lebih dekat, yang belum kenal menjadi lebih kenal, agar setiap informasi dapat disampaikan. Kebencian dalam media sosial disebabkan oleh oknum yang ingin memecah belah bangsa, dengan segala tetek-mbengek kepentingan. Indonesia lahir dari kemajemukan, yang oleh para leluhur dijadikan sebagai pondasi kesatuan dan persatuan. Maka kita wajib menjaga dan mempertahanka dengan instrumen terbaiknya yaitu Toleransi. Pelajar NU, sebagai garda terdepan dalam mewujudkan sinergitas antara keagamaan dan kebangsaan harus mampu menujukkan keberhasilannya dalam merealisasikan bangsa yang damai. Lantas, melalui langkah-langkah yang konkret dan sisitematif juga dapat turut serta menuntun masyarakat untuk bersama-sama bijak dalam hidup berbangsa dan beragama. Dengan demikian, maka akan terwujud bangsa yang damai dan pada saat yang sama menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia layak menjadi barometer Perdamaian Dunia.

Terkait
Terbaru
Nutizen
,

More Similar Posts

Menu