KEGALAUAN BERORGANISASI, ANTARA EKONOMI DAN MILITANSI

Berawal dari status Saya di facebook yang membahas kondisi ekonomi kader seringkali menghalangi militansi, idealisme seseorang, ternyata dialami pula oleh para kader pelajar Nahdlatul  Ulama yang aktif di IPNU dan IPPNU. Kehidupan seseorang tidak bisa lepas dari kebutuhan ekonomi. Seperti contoh ketika kita ingin makan dan minum perlu adanya duit, untuk mendapatkan selembar duit kita dituntut untuk bekerja. Semakin kita berusaha atau bekerja duit akan semakin banyak. Duit yang banyak dan melimpah dapat mencukupi segala kebutuhan hidup seperti membeli pakaian, membayar kredit anggsuran sepeda motor atau membiayai kebutuhan kuliah dan sekolah. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan manusia saat ini sangat erat sekali dengan duit.

    Ada anggota IPNU bercerita bahwa hari ini Ia fokus bekerja demi membayar kredit sepeda motornya. Karena memang sepeda motor yang biasa Ia tunggangi untuk berIPNU dibeli dengan sistim kredit angsuran. Oleh karenannya dalam kegiatan IPNU yang semula Ia aktif dan menjadi pelopor bagi kepengurusannya sekarang mulai sedikit demi sedikit ditinggalkan. Sejujurnya menurut Dia, kondisi seperti ini menjadikannya galau. Bukan galau karena percintaan seperti anak-anak zaman now. Tapi lebih tepatnya kegalauan seorang yang memilih untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan mengantungkan jiwa militansi sebagai kader. Ketika ditelisik lebih jauh ternyata kondisi seperti cerita diatas hampir dialami oleh semua kader di organisasi, terkhusus IPNU dan IPPNU. Bukan hanya satu atau dua orang saja yang mengalaminya.

    Perlu diingat bahwa KH Ridwan Abdullah pernah berkata “ Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan komplain aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah kebatu nisan ku”. Secara tidak langsung perkataan beliau merupakan jaminan bagi siapa saja yang mau berkhidmat di organisasi NU tidak akan mengalami kesusahan dalam hal ekonomi. Bukan maksud mengkultuskan kata-kata KH Ridwan Abdullah, namun perlu diingat bahwa Allah SWT akan memperhatikan makhluk yang mau memperhatikan makhluk lain. Mungkin demikian penguatan batin yang perlu dijadikan pondasi dalam menghadapi kegalauan ekonomi dan militansi berorganisasi.

    Ketika masih ragu dan bertanya apakah ada jaminan ketika kita miliitan berorganisasi ekonomii akan stabil. Ketidakstabilitas ekonomi bukan semata-mata karena orang tersebut aktif dalam organisasi dan ekonominya tidak terurusi. Namun ada beberapa faktor salah satunya kurang memanfaatkan peluang bisnis yang bisa meningkatkan pendapatan ekonomi. Di era digital saat ini peluang bisnis sangat banyak sekali. Bisnis online shop atau jualan dengan menggunakan media sosial adalah salah satu alternatif yang banyak diminati. Mulai jualan make up, pakian, makanan, hingga atribut organisasi. Ada juga yang memberanikan diri membuka warung kopi walaupun dengan modal lebih besar dari online shoop. Pastinya Organisasi sangat membantu dalam perputaran usaha kita.

    Terakhir yang perlu diingat dari aktifis militan organisasi adalah “hiduplah untuk organisasi, jangan cari hidup dari organisasi”. Artinya hidup kita hendaknya diabdikan untuk organisasi tetapi jangan memanfaatkan organisasi sepenuhnya dalam mempertahankan hidup termasuk mengandalkan organisasi untuk mencari nafkah. Karenanya usaha-usaha kreatif harus dikembangkan, niscaya organisasi  dengan sendirinya membantu usaha kita. Tetaplah belajar berjuang dan bertaqwa dalam hidup supaya kegalauan antara ekonomi dan militansi organisasi terhapuskan.

Masihkan ada keraguan bahwa organisasi tidak akan menghambat ekonomi kita ?

Penulis : Ahmad Saihudin Khundori

               (Abdidalem Komunitas Teras Sore dan anggota CBP Kabupaten Batang)

 

Terkait
Terbaru

More Similar Posts

1 Comment. Leave new

Manda IPPNU PAC Reban kab Batang
May 19, 2019 3:50 pm

Memang realistis apa yg di sampaikan oleh rekan Syaifuddin ini.
Dibalik kader yg militan tidak memungkiri bahwa perlu adanya uang demi berjalannya proses ataupun agenda dalam organisasi, lebih khusus nya di IPNU IPPNU.

Sebagian dari kami masih pelajar, di mana kami belum mendapatkan penghasilan. Terkadang kami menyisikan uang saku demi menghadiri kegiatan IPNU IPPNU misalnya, kalau saja tidak ada uang yg mampu disisipkan, tentu kami hanya dapat meminta kepada orang tua, dan tentunya itu terkadang menjadi beban, ataupun keganjalan dalam finansial keluarga.

So perlu adanya aktualisasi program ekonomi mandiri dalam berIPNU IPPNU, bukan berarti mencari penghidupan dalam organisasi, tapi demi kemaslahatan bersama.

Semoga menjadi penulis yg produktif untuk rekan Syaifuddin :’)

Menu