IMG_20190807_162308_compress19

IPNU IPPNU Desa Sidorejo Baca Yasin, Tahlil, dan Do’a Bersama untuk Syaikhona Mbah Maimoen

Warungasem | Puluhan Rekan Ikatan Pelajar Nahdlatul Uama’ (IPNU) dan rekanita Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (IPPNU) Desa Sidorejo Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, menggelar Tahlil dan Do’a Bersama Untuk Almarhum dan juga Guru panutan, Mbah Maimoen Zubair, pada Selasa Malam (06/08/2019).

Acara di mulai setelah Sholat Isya’ sekitar Pukul 20.00 WIB di Kediaman Rekanita Lora Alizza (Ketua IPPNU) yang didahului Sholat Ghoib Berjamaah setelah Sholat Maghrib di Masjid Al muttaqien yang Langsung di pimpin oleh Rois Syuriyah NU desa Sidorejo Bapak KH. Imam Abdul Majid sebagai Imam Sholat.
Pembacan Yasin, Tahlil, dan Do’a Bersama yang di ikuti puluhan Rekan rekanita IPNU dan IPPNU serta sahabat Ansor Banser Desa Sidorejo, dipimpin Oleh Ustadz. M.Choirul Amar yang juga Sebagai Pembina IPNU desa Sidorejo. Usai pembacaan Yasin, tahlil, dan do’a bersama tersebut, beliau menyampaikan sepatah kata yang menjadi harapannya:

“Mbah Moen adalah Guru Bangsa yang menjadi rujukan Ulama di Nusantara. Kita tidak hanya kehilangan Beliau, tapi kita juga kehilangan lentera ilmu dari dalam diri Beliau. Semoga sepeninggal Beliau Banyak Generasi Muda NU yang bisa meneruskan perjuangan beliau di Negeri tercinta ini.”

KH. Maimoen Zubair adalah sosok kharismatik yang ahli dalam berbagai ilmu salah satunya ilmu fiqh. Beliau menjadi acuan bagi warga Nahdliyin dalam hal fiqh karena keilmuan beliau yang tidak dapat diragukan. KH Maimoen Zubair lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 dan meninggal pada 06 Agustus 2019 bertepatan pada tanggal 05 Dzulhijjah 1440 H Pada Pukul 04.17 Waktu Arab Saudi. Mbah Maimoen wafat saat melaksanakan haji di tanah suci Makkah pada usia 90 tahun.

  1. Beliau adalah anak yang lahir dari perpaduan permata dan intan. Ayah beliau, KH Zubair juga termasuk ulama’ yang terkenal dengan keilmuannya yang luar biasa yang juga diajarkan kepada puteranya, yakni Mbah Maimoen.
    Dari kisah hidup beliau (KH Maimoen Zubair) kita sebagai warga Nahdliyin harus menjadikannya sebagai panutan dalam hidup kita, terutama dalam organisasi NU. Kita sebagai warga Nahdliyin hendaknya tidak hanya sekedar menyebarluaskan berita tentang wafatnya beliau, tetapi kita harus punya wujud ta’dhim kita kepada beliau dengan cara mendo’akannya dengan harapan agar memperoleh “luberan berkah” dari beliau yang merupakan ulama’ NU.

Semoga kita Generasi Muda NU di Desa Sidorejo juga diakui Santri oleh beliau… Selamat jalan Mbah Yai Maimoen Zubair, Selamat berjumpa dengan orang-orang alim lainnya di alam sana dan Berjumpa dengan Rosulullah SAW… Aaaamiin Ya Mujibbassailin…

Syaikhona, kepergianmu menghadap Sang Pencipta menjadi duka bagi alam. Namun menjadi kabar gembira bagi Penghuni Syurga. Aamiin.

Terkait
Terbaru

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu