Indonesia Emas 2045; Amanat yang Harus Diperjuangkan

Saya sangat bangga menjadi warga negara Indonesia. Indonesia selalu memberikan inspirasi untuk terus berkarya. Indonesia selalu mengingatkan akan pentingnya semangat bekerja. Bhineka tunggal ika itulah semboyannya. Indonesia tidak akan melupakan pahlawannya. Indonesia adalah harapan kedamaian dunia.

Sudah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka dari penjajahan. Kemerdekaan Indonesia memberikan peluang bagi negara ini untuk mengatur konsep kewarganegaraannya.

Sesuai dengan teori kontrak sosial setiap warga negara berhak mendapatkan hak dan kewajibannya dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu juga dengan negara Indonesia, Indonesia mempunyai peraturan tentang kewarganegaraan salah satunya Indonesia tidak menerima dua status warga negara, maksudnya warga negara Indonesia hanya boleh menjadi warga negara Indonesia tidak ditambah menjadi warga negara lainnya.

Ini maksudnya loyalitas kepada negara Indonesia tidak bisa diduakan dengan loyalitas kepada negera lainnya. Indonesia merdeka sudah mendekati satu abad lamanya. Untuk menyambut satu abad Indonesia merdeka pemerintah mencanangkan gerakan Indonesia Emas 2045 sebagai hadiah 100 tahun Indonesia merdeka. Indonesia Emas merupakan harapan besar Indonesia mencapai idealismenya sebagai bangsa yang berpancasila.

Namun hal itu tidak bisa begitu saja terjadi tanpa perjuangan kita semua sebagai aset negara. Berbagai tantangan dan halangan sudah siap menghadang niat baik tersebut. Mulai dari permasalahan anak-anak, remaja, pemuda bahkan permasalahan orang-orang dewasa yang menghiasi bingkai kewarganegaraan di negeri ini.

Perkembangan Teknologi Informatika

Perkembangan teknologi informatika yang sangat pesat dewasa ini berdampak pada pola kehidupan bermasyarakat yang jika tidak disikapi dengan baik akan menimbulkan dampak negatif yang diterima oleh penggunanya. Anak-anak dengan giatnya memegang [1]gadget untuk menghibur diri setiap hari bahkan setiap waktu. Permainan android menghiasi dunia baru mereka yang berdampak pada kecanduan bermain game. Hal ini apabila tidak disikapi dengan baik akan berakibat pada kurangnya proses pembelajaran anak dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Pada kasus ini juga dapat menimbulkan bibit egoisme pada diri anak yang apabila tidak disikapi dengan baik akan membahayakan dikemudian hari.

Selain itu media sosial dengan kemasan menariknya menjadi bius baru bagi remaja dan pemuda Indonesia. Bahkan saat ini terkesan tiada hari tanpa media sosial. Hal ini dibukktikan dengan banyaknya pengguna media sosial seperti facebook, twitter, bbm dan sejenisnya. Tidak jarang teman-teman kita di [2]medsos begitu gampangnya mengirim konten yang berisi aktifitas sehari-hari mereka. Lapar….; ngantuk….; pushing….; tidur dulu ya….; merupakan beberapa contoh kiriman yang sering kita jumpai di medsos yang kesannya tidak ada kerjaan selain posting di medsos.

Pada kasus lain media sosial juga sangat berperan menimbulkan dampak negatif bagi bangsa ini. Media sosial sebagai ladang propaganda sebagian kelompok cukup menjadi penghalang keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Berbagai informasi di media sosial dewasa ini banyak yang tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi. Hal ini tentunya karena kurangnya rasa memiliki sebagai satu bangsa satu negara yang seharusnya mampu menjaga kebenaran informasi yang kita sampaikan.

Tidak selesai disitu permasalahan yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi informasi ternyata sangat banyak. Fenomena [3]selfie dimana-mana menjadi salah satu fenomena yang dapat kita saksikan bersama bahkan menjadi isu nasional. Banyak remaja dan anak muda tidak bisa lepas dengan budaya selfie karena pengaruh lingkungan sekitar.

Hampir segala kegiatan yang dilakukannya diabadikan lewat selfie. Walaupun disisi lain memandang bahwa selfie berguna untuk mendokumentasikan segala kegiatan yang kita lakukan. Tetapi yang terjadi dilapangan selfie lebih terlihat sebagai pemuas keinginan yang menjadi ajang memperlihatkan keunggulan diri sendiri kepada orang lain bahkan dibeberapa konidisi banyak yang melakukan ini tanpa mengenal tempat dan waktu. Misal melakukan selfie didepan seorang yang sedang bekerja tanpa izin pengambilan gambar yang terkesan pelaku tidak menghargai orang di sekitar.

Karakter remaja dan pemuda sebagai penjelajah ternyata juga sangat terlihat pada implementasi perkembangan teknologi informatika. Banyaknya konten-konten online yang dapat diakses oleh semua orang bahkan konten-konten yang tidak pantas/tidak layak dikonsumsi menjadi kesempatan sebagian kelompok untuk memanfaatkannya bahkan berujung pada kemerosotan moral bangsa. Konten yang bernuansa pornografi menjadi salah satu contohnya. Hal semacam ini sanagat membahayakan bagi kehidupan kader bangsa sebagai penerus perjuangan bangsa. Awalnya mereka belum tahu apa-apa, karena ada ajakan dari teman lama-kelamaan mulai berani melakukan penelusuran online dengan mecari kata-kata kuncinya, tidak sedikit diantara remaja Indonesia yang karena melihat konten-konten pornografi lewat gambar ataupun video mereka punya keinginan untuk melakukan/meniru hal tersebut. Alhasil banyak sekali remaja dan pemuda Indonesia yang hari ini sudah terjerumus

pada kegiatan pornoaksi hanya karena sebab awalnya menonton konten pornografi lewat gambar atau video. Sehingga dapat kita lihat hari ini banyak sekali pergaulan bebas yang dilakukan oleh remaja/anak muda terlebih di daerah perkotaan yang ditambah oleh pengaruh lingkungan masyarakat sekitar yang lebih membebaskan suatu hal yang baru walaupun tidak baik bagi masa depan bangsa.

Ekonomi Berbasis Materialis

Dewasa ini bisa kita rasakan perekonomian di negara kita belum sampai pada level ekonomi yang adil dan sejahtera. Hal ini dibuktikan banyaknya kaum menengah keatas dan disisi lain juga banyak kaum kurang mampu dalam satu lingkup daerah. Belum meratanya kepedulian terhadap orang-orang kurang mampu menjadi penyebab dua keadaan berbalik arah ini terjadi. Banyak pengusaha sukses dengan tanpa merasa bersalah tidak peduli terhadap perkembangan perekonomian di masyarakat sekitarnya. Bahkan pada situasi yang sangat memprihatinkan lagi beberapa oknum yang mempunyai title pengusaha tidak mempedulikan dampak negatif yang ditimbulkan dari usaha yang dilakukannya bagi masyarakat sekitar.

Pada Desember 2015, saya berkesempatan silaturrahmi ke Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Jombang pada acara Muktamar NU. Satu hal yang membuat saya kaget dan tidak habis pikir di Jombang waktu itu ternyata di pinggir jalan raya ada sungai panjang yang airnya sudah berubah warna menjadi hitam pekat dengan bau menyengat. Ternyata setelah saya telusuri sepanjang sungai tersebut ada aliran pembuangan limbah dari beberapa pabrik di sekitar kota. Hal ini tentunya sangat menunjukkan bahwa kalangan pengusaha dalam hal ini pemilik pabrik tidak mempertimbangkan sampai pada dampak negatif apa yang nanti

ditimbulkan dari usahanya tersebut. [4] Materialisme menjadi salah satu pemeran utama ketidakpedulian segelintir orang terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar. Keadaan ini kalau dibiarkan begitu saja dan tidak ada tindak lanjut dapat memunculkan permasalahan baru yang lebih mengerikan bagi keharmonisan kehidupan masyarakat di lingkungannya.

Beralih melihat perkembangan ekonomi yang melibatkan dunia maya. Baru-baru ini dilingkungan saya sedang trend mencari uang lewat online. Pada kasus ini saya mengambil sampel permasalahan pada praktik pencarian uang lewat media youtube dan media online sejenisnya yang didukung dengan fasilitas pengiklanan [5] Google AdSense. Disini bisa kita lihat begitu subur paham materialis sudah melekat pada otak sebagian warga negara Indonesia. Mulai dari pembajakan hak cipta konten, pemalsuan informasi yang disampaikan sampai memasukkan konten-konten yang tidak sepantasnya menjadi alat mengumpulkan uang. Walaupun cara yang dilakukan itu tidak menyimpang dari prinsip berwirausaha dalam hal ini sudah bisa dikatakan uang yang didapatkan itu halal tetapi belum tentu bisa dikategorikan sampai tingkatan halalan thayyiban.

Pada suatu kasus saya jumpai bebarapa kali saat menonton video melalui youtube dengan konten shalawat didalamnya, yang membuat aneh dan tidak sepantasnya terjadi pada beberapa konten iklan dari video tersebut mengandung unsur yang tidak sepantasnya membaur menjadi satu dengan konten suci sekelas shalawat. Bahkan tidak lama ini ketika saya mencoba menginstal aplikasi al-quran lewat hp android tiba-tiba setelah aplikasi terinstal dan berhasil saya buka, pada bagian bawah aplikasi ada iklan foto wanita telanjang yang muncul setiap aplikasi itu dibuka. Kondisi semacam ini tentunya sangat memprihatinkan kalau kita berbicara karakter bangsa. Karena jelas sudah jauh dari karakter Indonesia berpancasila. Apakah pantas konten yang sangat suci bagi penganut agama islam

(sekelas al-quran) di dalamnya disisipkan konten yang jelas tidak diperbolehkan oleh anjuran agama? Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab dengan hati nurani bukan dengan logika yang sudah tercampuri paham materialis produk luar negeri itu.

Hal tersebut tentunya tidak sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh agama islam yaitu bekerja sebagai langkah untuk beribadah. Dimana ketika kondisi masih berbicara seperti kasus yang ada diatas, bekerja belum bisa sampai pada titik sukarela untuk kemajuan agama, bangsa dan negara. Tetapi masih memunculkan egoisme sebagai makhluk yang membutuhkan uang sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan seberapa dampak negatif yang kita munculkan dari apa yang kita lakukan.

Konsumtif yang Masih Tinggi

Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat konsumtif yang sangat tinggi. Perilaku konsumtif yang sangat tinggi ini juga berpengaruh terhadap pola hidup sehari-hari

bahkan berpengaruh terhadap mental wirausaha seseorang dan lingkungannya. Dewasa ini Indonesia lewat lembaga-lembaga pendidikan formalnya mengadakan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang mempunyai harapan output dari sekolah tersebut bermental wirausaha yang lebih dari lulusan sekolah-sekolah umum lainnya. Tetapi sampai hari ini target tersebut

belum sepenuhnya bisa terlaksana dengan merata. Banyak lulusan SMK yang setelah lulus kebingungan mencari lapangan pekerjaan. Hal ini dipersulit dengan persaingan global yang sangat ketat dimana jumlah lapangan pekerjaan yang ada saat ini tidak lebih banyak dari jumlah orang-orang yang membutuhkan. Tentunya pola hidup ini dapat memunculkan pemandangan banyaknya pengangguran di mana-mana. Kenapa pola pikir kita tidak diubah dari mencari lapangan pekerjaan menjadi menciptakan lapangan pekerjaan?

Kehidupan Warga Negara Masih Sebatas Formalitas Belaka

Tampaknya, Indonesia merdeka lebih dari setengah abad ini belum bisa menghayati teori kontrak sosial yang selalu mengaitkan warga negara dengan hak dan kewajiban. Masih banyak masyarakat yang berpendapat formalitas tidak ada artinya bahkan memanfaatkan formalitas sebagai alat untuk menguntungkan pribadi tanpa memperhatikan dampak negatif

yang nanti akan muncul dilingkungan sekitarnya masih biasa.

Mulai dari penanaman mind set kepada anak-anak kelas enam SD dengan kata “nilai ujianmu harus tinggi ya nak!”, bukan dengan redaksi “besuk kalau kamu lulus ilmumu harus bermanfaat ya nak!”. Pola pikir sederhana tetapi mematikan ini masih dipraktikkan oleh banyak orang tua di Indonesia. Kasus ini memberikan kemungkinan munculnya banyak permasalahan dikemudian hari bagi korban penanaman disorientasi yang dilakukan oleh sebagian orang tua ini. Kemungkinan munculnya ide-ide kecurangan yang akan dilakukan oleh anak menjadi kemungkinan terburuk yang menjadi gerbang awal kemerosotan moral bangsa dikemudian hari. Hal lain bisa kita lihat pada beberapa kasus ketika anak SD mendapat pekerjaan rumah (PR) dari gurunya serantak orang tua dengan tidak mempertimbangkan apa yang nanti akan terjadi mengucapkan “Ayo PR nya dikerjakan! Kalau tidak dikerjakan nanti dimarahi bu guru ” kenapa tidak dengan redaksi “Ayo PR nya dikerjakan! Itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan”. Sederhana tetapi sangat berpengaruh bagi kehidupan anak dikemudian hari. Karena daya rekam anak usia dini itu sangatlah kuat dan itu yang akan dijadikan dasar pijakan saat dewasa nanti. Hal semacam itu juga banyak kita jumpai menjelang ujian nasional ditingkat SMP maupun SMA. Dimana mind set sebagian orang masih menganggap bahwa nilai bagus lebih penting daripada manfaat ilmu tersebut. Hal itu mengakibatkan berbagai dorongan untuk memenuhi hasrat nilai bagus dengan segala cara. Pada level tingkat SMP dan SMA sering kita jumpai dengan praktik kecurangan mulai dengan membawa contekan kedalam ruang ujian, kasus bocornya soal ujian sehingga diperjual belikan oleh beberapa oknum, bahkan yang lebih mengerikan ketika oknum guru masuk memberikan mind set bahwa mencontek dalam satu sekolah untuk ujian nasional diperbolehkan dengan dasar loyalitas satu sekolah sebagai satu tim. Kasus tersebut tentunya akan menghalangi cita-cita Indonesia Emas 2045 ketika tidak ada upaya tindak lanjut yang berorientasi perbaikan akhlak anak bangsa.

Berbeda dengan permaslahan yang dialami oleh siswa SD, SMP dan SMA, orang-orang dewasa mulai mengembangkan mind set yang mengandung nilai disorientasi sebagai warga negara yang pernah diterimanya saat menginjak usia-usia sebelumnya. Misalnya pada kasus pembuatan surat izin mengendarai (SIM) banyak sekali sebagian dari warga negara kita yang karena kepentingan pribadinya dengan terpaksa membuat sim, bukan karena keterpanggilan sebagai warga negara untuk memenuhi kewajibannya tetapi masih sebatas melaksanakan atas dasar keterpaksaan.

Mengejar ijazah/surat keterangan lulus hanya untuk diakui orang lain juga menjadi contoh praktik kesalahan mind set dikalangan warga Indonesia. Mereka dengan bangga mendapat ijazah tanpa berfikir dan melakukan upaya bahwa ia mempunyai beban mental untuk terus belajar karena gelar yang ia miliki. Mind set semacam ini bisa dengan mudah kita jumpai dikalangan mahasiswa ketika akan membuat skripsi, banyak sekelompok mahasiswa dengan pola pikir demikian sangat mudah mengatakan “siapa yang mau mengerjakan skripsi saya? Nanti ada timbal baliknya (saya gaji)”. Kebetulan saya adalah lulusan SMK jurusan teknik informatika, suatu hari ketika saya bertemu dengan salah satu lulusan suatu universitas terkenal di Indonesia, saya ditawari mengerjakan skripsi dari beberapa mahasiswa dengan timbal balik gaji yang akan saya terima. Dengan entengnya ia menawarkan hal tersebut kepada saya tanpa merasa bersalah bahwa ia sedang memeras otak anak bangsa yang menjadi harapan Indonesia Emas 2045 dengan nilai-nilai materialis produk luar negeri tersebut.

Bahkan yang paling mengerikan ketika Pancasila sebagai dasar negara hanya diakui sebatas formalitas belaka. Hal ini bisa kita lihat berbagai kelompok yang secara legal mempunyai status sebagai warga negara Indonesia tetapi mereka tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara yang sesungguhnya. Upaya-upaya penggantian Pacasila sebagai dasar negara mulai terlihat sinyalnya dari kelompok-kelompok tersebut yang tidak setuju Pancasila sebagai dasar negera kita. Isu [6]Khilafah Islamiyah menjadi isu bersama yang mereka usung untuk menggeser eksistansi dan substansi pancasila sebagai dasar negera. Kasus ini tentunya sangat membahayakan keharmonisan kehidupan bermasyarakat di negeri ini. Karena bersama dengan itu sinyal-sinyal diskriminasi terhadap kaum minoritas mulai terlihat pada permasalahan ini.

Tidak berhenti pada isu penggantian dasar negara, kemerosotan moral yang terjadi dikalangan remaja dan pemuda Indonesia juga dapat diartikan bahwa mereka hanya mengakui Pancasila sebagai formalitas belaka tidak sebagai nilai yang terkandung dalam

setiap langkahnya didalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tawuran pelajar, bolos sekolah, pergulan bebas, minuman keras bahkan peredaran narkoba di kalangan remaja dan pemuda menjadi penghalang besar proses menuju Indonesia Emas 2045. Permasalahan tersebut jika tidak ada perhatian dari warga negara sebagai pelaku kehidupan bermasyarakat dan pemerintah sebagai pemegang kebijakan dengan wujud upaya untuk meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang terjadi akan berakibat fatal bagi kehidupan bangsa kedepan.

Karena fenomena ini sama halnya dengan fenomena gunung es, dimana ketika terjadi pembiaran maka setiap hari akan bertambah pelakunya.

Solusi untuk Indonesia Tercinta

Tantangan-tantangan yang kita hadapi sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa menjadi tanggung jawab kita bersama bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja sebagai pemangku kebijakan ataupun tanggung jawab rakyat saja sebagai pelaku kehidupan bermasyarakat. Kesamaan visi misi antara pemerintah dan rakyat menjadi kekuatan besar mewujudkan idealisme Indonesia sebagai bangsa yang berpancasila sebagai hadiah satu abad Indonesia merdeka yang kita sebut dengan istilah Indonesia Emas 2045.

Tanggung jawab bersama ini merupakan tantangan bagi semua warga negara Indonesia untuk mengimplementasikan solusi dari permasalahan yang terjadi. Konsep solusi yang dimaksud sebetulnya sudah tidak asing bagi warga Nahdlatul Ulama. Namun yang masih asing ialah penerapan prinsip tersebut secara murni dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Solusi tersebut ialah implementasi Mabadi’u Khaira Ummah sebagai gerakan pembentukan watak, sikap dan perilaku warga negara Indonesia untuk memenuhi kewajiban dan mendapatkan haknya sebagai warga negara seutuhnya.

Jujur

Kejujuran menjadi benteng terpenting kehidupan bermasyarakat. Ketika sejak kecil anak-anak kita diajarkan praktik-praktik kejujuran dengan dimulai dari orang tuanya memberi contoh maka ketika mereka besar dalam rangka menyiapkan diri menjadi pemimpin bangsa mereka akan ingat betul apa yang dulu diajarkan oleh orang tuanya waktu ia masih kecil.

Kejujuran tidak bisa berkembang dengan baik hanya dengan peran tunggal keluarga, peran lingkungan masyarakat sekitar sangat berpengaruh terhadap pola hidup anak-anak menuju dewasa terkait dengan kejujuran. Maka tentunya konsep kejujuran ini perlu menjadi satu misi bersama yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia sebagai bagian dari masyarakat.

Dapat Dipercaya dan Tepat Janji

Poin ini tentunya sangat bermanfaat ketika bisa berjalan dengan maksimal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika pemerintah sebagai pemegang amanat dari rakyat untuk melaksanakan aspirasinya bisa melaksanakan dengan baik sesuai aturan yang ada. Dan ketika rakyat juga melaksanakan kewajibannya dan tidak lupa akan haknya sebagai warga negara yang baik. Maka begitu harmonisnya kehidupan bermasyarakat yang ada di negera kita ini. Hal ini merupakan implementasi dapat dipercaya dan tepat janji sebagai langkah untuk melaksanakan kewajiban sebagai warga negara ini.

Adil

Keadilan harus dilaksanakan oleh semua warga negara Indonesia untuk mewujudkan keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini adalah adil terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Artinya setiap warga negara Indonesia tidak boleh bersikap dholim terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Menempatkan posisi lingkungan sekitar misalnya tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk Allah SWT menjadi salah satu contoh sederhana sikap adil. Membuang sampah pada tempatnya walaupun hanya sedikit sampah juga menjadi salah satu upaya untuk membentuk karakter keadilan yaitu menempatkan sesuatu sesuai tempat yang seharusnya dia tempati.

Gotong Royong

Konsep ini mencanangkan konsep sukarela dimana sesama manusia kita harus saling menolong. Saling menolong yang dimaksud adalah saling tolong-menolong dalam hal kebaikan bukan dalam hal kejelekan.

Konsisten

Konsisten menjadi prinsip penjaga prinsip lain yang sudah terlaksana sebelumnya. Solusi-solusi diatas tanpa dilaksanakan dengan konsisten tidak akan berjalan dengan maksimal.

Menyambut Indonesia Emas 2045

Siapa yang tidak ingin negaranya menjadi negara maju?

Siapa yang tidak ingin negaranya menjadi negara adil?

Siapa yang tidak ingin negaranya menjadi negara makmur?

Siapa yang tidak ingin negaranya menjadi negara sejahtera?

Indonesia Emas 2045 merupakan cita-cita bersama yang akan menyatukan bangsa Indonesia dari berbagai jenis kepentingan pribadi maupun golongan. Indonesia Emas 2045 merupakan agenda besar masyarakat Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju yang warga negaranya dapat hidup makmur berdampingan satu sama lainnya walaupun mempunyai latarbelakang yang berbeda. Latarbelakang suku, golongan, kelompok dan agama sudah tidak menjadi penghalang keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun pemandangan yang menjadi harapan kita bersama ini tidak akan pernah terjadi selama kita masih membiarkan bangsa ini ditimpa masalah-masalah yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Untuk itu sebagai warga negara yang baik mari kita laksanakan upaya-upaya untuk melaksanakan amanat bersama yang menjadi cita-cita seluruh elemen bangsa Indonesia mulai dari nenek moyang kita, pahlawan perjuangan Indonesia, founding father dan seluruh warga negara Indonesia yang mempunyai orientasi menjadikan warga Indonesia mempunyai idealisme sebagai insan berpancasila. SATU NUSA, SATU BANGSA , SATU BAHASA. (nandcbp)

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — –[1] Gadget: sebutan untuk perangkat/media. Contohnya hp android.

[2] Medsos: media sosial yang biasa sering digunakan masyarakat. Contoh nya facebook, twitter, bbm dan lain sebagainya.

[3] Selfie: foto yang diambil oleh diri sendiri

[4] Materialisme: sebuah paham yang berorientasi pada barang atau uang.

[5] Google AdSense: sebuah layanan penayangan iklan secara online yang merupakan produk dari google.

[6] Khilafah Islamiyah: sebuah sistem pemerintahan yang berlandaskan. hukum syariat islam sepenuhnya dan secara murni

——————————————————————————————————–

Daftar Pustaka

Sumber Buku

Ahmad Nurudin, M Dalhar. 2016. Ke-NU- an Ahlussunnah Waljamaah Kelas XII MA/SMA/SMK. Semarang. LP Ma’arif NU Jawa Tengah

Sumber Internet

Tayangan Youtube Indonesia Lawyers Club tvOne Setelah “411”, diakses pada 20 Desember 2016 pukul 11.24 WIB

Tayangan Youtube Nusantara TV Channel Pidato Soekarno Ganyang Malaysia, diakses pada 22 Desember 2016 pukul 14.05 WIB

Artikel Membangun Karakter Insan Iptek Menuju Indonesia Emas 2045, diakses dari http://www.dikti.com pada 27 Desember 2016 pukul 0:30 WIB

Artikel Menuju Indonesia Emas 2045, diakses dari http://www.kompasiana.com pada 27 Desember 2016 pukul 0:46 WIB

Terkait
Terbaru

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu