Harlah Gus Dur: Reportase Drama Muktamar Cipasung

Muktamar NU ke 29 di Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat pada  1-5 Desember 1994 di Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat merupakan muktamar NU yang paling sadis sepanjang sejarah. Kepentingan politik dari luar yang sangat besar membuat Muktamar NU Cipasung jauh melenjeng dari khittah NU 1926. Suasana panas di tubuh NU tidak hanya terjadi ketika muktamar berlangsung namun juga terjadi hingga hari-hari selanjutnya setelah berakhirnya muktamar.

Berdasarkan harian Suara Merdeka edisi 31 desember 1994 dituliskan bagaimana Kepentingan politik dari luar yang begitu merecoki Muktamar NU ke-29 hingga puncaknya terjadi pembentukkan PBNU tandingan oleh Abu Hasan.

Gus Dur yang pada periode sebelumnya menjabat sebagai ketua PBNU merupakan ancaman berat bagi presiden Soeharto. Hal ini yang membuat Presiden Soeharto berusaha menyingkirkan Gus Dur dari PBNU. Awalnya Soeharto meminta tokoh NU yang sudah berada di Golkar Chalid Mawardi untuk maju sebagai calon ketua PBNU periode 1994-1999. namun ternyata Chalid Mawardi tidak mendapat respon positif dari peserta Muktamar. Maka nama selanjutnya yang muncul adalah Abu Hasan dan sangat besar kemungkinannya bahwa Abu Hasan merupakan boneka dari Soeharto. Sedangkan calon lain Fahmi Saifuddin mengundurkan diri dari pencalonan.  Akhirnya pemilihan ketua PBNU diperebutkan oleh Gus Dur dan Abu Hasan.

Singkat cerita Gus Dur berhasil menang dan terpilih sebagai ketua PBNU periode 1994-1999. Pada 13 Desember 1994 Gus Dur mengumumkan susunan kepengurusan PBNU periode 1994-1999. Nama Abu Hasan tidak tercantum dalam pengurus. Selaku anggota tim formatur, Tengku Abdul Azis yang juga ketua PWNU Aceh menolak menandatangani berita acara. Tengku Abdul Aziz melakukan ini karena merasa saran-sarannya dalam membentuk pengurus ditolak.

Pada 14 Desember  Fahmi Saifuddin mengundurkan diri dari kepengurusan. Alasannya antara lain karena Fahmi tidak ingin terlibat dalam perpecahan yang dipengaruhi faktor eksternal.

Pada 15 Desember  Abu Hasan mengeluarkan petisi yang isinya menolak hasil Muktamar, tidak mengakui kepemimpinan Gus Dur, menafikan seluruh pengurus PBNU yang baru, menuntut diadakannya Muktamar Luar Biasa, dan menghimbau pemerintah turun tangan membantu upaya yang disebutnya penyelamatan NU. Pernyataan ini ditandatangani 9 pengurus wilayah yang mengatasnamakan 22 wilayah NU.

Pada tanggal 27 Desemer 1994  Abu Hasan memproklamasikan berdirinya Koordinasi Pengurus Pusat NU (KPPNU) yang strukturnya dibuat mirip dengan PBNU. Tujuan didirikannya KPPNU adalah sebagai institusi transisi untuk mempersiapkan Muktamar Luar Biasa yang nantinya diharapkan dapat mencapai titik temu antara PBNU dengan KPPNU. Menariknya 10 nama yang dicantumkan sebagai pengurus KPPNU mengaku tidak tahu menahu dan tidak dihubungi siapapun mengenai KPPNU.

Kubu Abu Hasan kemudian mengadakan Muktamar Luar Biasa di Pondok Gede pada Januari 1996. Muktamar ini menghasilkan Abu Hasan dan KH. Abdul Hamid Baidlowi terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah dan Rais Aam secara aklamasi.

Menurut Syafi’i Anwar, wakil pemimpin redaksi Ummat seperti yang dimuat di koran tempo pada 26 maret 1996, menyebutkan NU yang biasanya cenderung akomodatif dalam mengatasi konflik internal, kini menjadi konfrontatif. Pemerintah menawarkan islah. Pihak Abu pun menyambut, tapi masih terus “ngebet” mempersoalkan keabsahan kepengurusan PBNU hasil muktamar Cipasung. Sementara itu pihak Gus Dur semula menolak tawaran itu, tapi akhirnya menerima dengan syarat: pihak Abu mau menerima dan tunduk terhadap hasil Muktamar Cipasung. Pihak Abu tak menggubris. PBNU mengancam, jika pihak Abu Hasan masih “membangkang”, tidak mau kembali kepada jalan yang benar (ruju’ ilal haq), mereka akan terpaksa dipecat. Akhirnya pada tanggal 19 maret 1996, sebanyak 19 orang dari pihak Abu Hasan dicoret keanggotaannya dari NU.

Perpecahan ini mulai mencair pada 16 april 1997, ketika Gus Dur dan Abu Hasan bersilaturahmi di kediaman Abu Hasan. Singkat cerita, di samping konfliknya dengan Abu Hasan, Gus Dur melakukan serangkaian manuver politik pada pertengahan 90-an. Manuver ini menyebabkan Presiden Soeharto yang awalnya ingin menggembosi Gus Dur dalam Muktamar Cipasung akhirnya (mau tidak mau) kian dekat dengan Gus Dur di akhir kekuasaannya. Drama muktamar Cipasung ini akhirnya menempatkan Gus Dur dan Abu Hasan, dua tokoh yang saling berseteru pada tempatnya masing-masing. Abu Hasan sempat mendirikan Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia (UNI) pasca reformasi, kemudian namanya kian jarang terdengar hingga wafat pada 13 Juli 2006. Sedangkan Gus Dur mendirikan PKB pasca reformasi dan berhasil mengalahkan Megawati dalam pemilihan presiden pada akhir oktober 1999.

 

Sumber:

Depo Arsip Suara Merdeka

Tempo Interaktif

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/03/07/0142.html

 

 

Terkait
Terbaru
Nutizen

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu