ad82531f-36af-4575-9f43-394611fa6f7a

Gus Yusuf Apresiasi Program “Konco Sinau”, Roda Organisasi Harus Tetap Berjalan

SEMARANG – Meski di masa pandemi, roda organisasi harus tetap berjalan. Pandemi covid-19 dampaknya memang luar biasa, tidak hanya pada kesehatan, tapi juga ekonomi. Tentu dampak pada pendidikan pula sangat kentara.

Hal itu di sampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Gus Yusuf Chudlori, di hadapan ratusan Kader Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (IPPNU) Provinsi Jawa Tengah, pasca pelantikan di hotel Pandanaran, Sabtu (26/09).

“Banyak Rekan-rekan kita, adek-adek kita yang kerjaannya cuma bengong di rumah, tiap hari cuman meluk gadget, siang hari main sepeda juga enggak”, ungkap Gus Yusuf, sapaan akrabnya.

Gus Yusuf, dalam Tausyiah Kebangsaannya saat Pelantikan dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW IPNU & IPPNU masa khidmat 2019-2022, sangat menyayangkan beberapa waktu lalu sempat muncul wacana akan dihapuskannya pelajaran sejarah dari bangku sekolah.

“Kita boleh menatap ke depan sejauh-jauhnya, tetapi kita tidak boleh melupakan sejarah. Sungguh sangat ironis ketika kemarin muncul, entah itu wacana atau gagasan dari Kementrian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) untuk menghapus pelajaran sejarah”, lanjut putra Al-Maghfurlah K.H Chudlori Tegalrejo tersebut.

Oleh karena itu, pengasuh Ponpes API Tegalrejo yang juga sebagai pembina PW IPNU Jawa Tengah tersebut, mengajak para kader IPNU dan IPPNU untuk menjaga generasi calon pejuang ajaran Ahlussunnah waljamaah, dengan cara terus mengingat sejarah. Sebab tanpa paham sejarah, generasi muda bisa kehilangan pondasi.

“Generasi muda yang tidak paham sejarah, adalah generasi yang tanpa pondasi, Al-dunya Al-dauroh”, terangnya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, dunia yang berputar, sejarah demi sejarah terus berulang dan berulang. Seperti Peristiwa di zaman Rasulullah SAW. akan terulang kembali di zaman Sahabat. Kejadian dan peristiwa yang terjadi di zaman Sahabat akan berulang di zaman tabi’in tabi’at, dan seterusnya. Hanya berganti setting dan latar belakang panggung serta pemainnya. Tapi hakikat peristiwa itu akan terus berulang dan berulang.

“Maka, sungguh sangat bodoh dan ironis generasi-generasi yang melupakan sejarah, teman-teman Nasionalis punya idiom Jas Merah. Kita, NU, punya idiom Jas Hijau jangan sekali-kali hilangkan jasa para ulama”, tegasnya.

Menurutnya, sejarah NU di Orde Lama, bisa kita pelajari juga. Peran serta NU, dan tokoh-tokohnya, di zaman Orde Baru, hingga di era reformasi.

“Hal itulah yang harus menjadi pijakan kita bersama menatap ke depan kita meraih cita-cita setinggi mungkin, tetapi kita tetap berpijak, akar yang kuat, akidah Ahlussunnah waljamaah yang kuat dan mencintai NKRI”, imbuhnya.

Beliau Juga Mengingatkan, agar sejarah dijadikan sebagai spion untuk menatap masa depan, dan harus menjadi motivasi, nantinya di pundak IPNU dan IPPNU perjuangan para alim ulama akan diteruskan.

“Meski kecil, yang namanya spion, tetap penting dan dibutuhkan”, tambahnya.

Di akhir, Gus Yusuf juga sangat mendukung progam ‘konco sinau’ yang di sematkan oleh pengurus baru PW IPNU dan IPPNU Provinsi Jawa Tengah, untuk mengatasi persoalan yang dialami pelajar di berbagai daerah, khususnya di daerah-daerah terpencil, Seperti mengenai persoalan jaringan internet yang terkendala, kebingungan guru, orang tua yang mengeluh karena harus membagi waktunya bekerja dengan mendampingi anaknya belajar dan lain-lain.

Di Tulis oleh : Sekretaris Lembaga Pers Jurnalistik PW IPNU Jateng

Terkait
Terbaru

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu