Artikel

Curhatan Rahmatan lil ‘Alamin

35views

Saya baru tahu dari rekan saya Lala Shofwatul Mala kalau curhat di tafsil jadi dua. Yakni (1) Curhat yang tidak layak di baca banyak orang, dan (2) Curhat yang layak dibaca banyak orang.

Urusan curhat yang pertama ini adalah soal-soal yang sangat pribadi sekali; misal saja seperti temen saya Surip yang kisah cintanya tidak pernah di anggap oleh gebetannya. Mungkin rekan-rekan juga banyak yang mengalami, (merasa) berhubungan sudah lama namun karena satu sebab akhirnya si target memilih menepi, atau malah membakar semua kisah yang pernah terjadi hingga tak berbekas; bukan sebatas bakar-bakaran foto, tapi juga hapus-menghapus beranda hingga info relationship. Lebih parahnya kalau si cewek sampai diniati sepenuh hati untuk amnesianisasi diri.

Ya seperti kisah Surip temen saya tadi; yang tak pernah dianggap oleh gebetannya meski begitu banyak kisah romantis -sekali lagi; menurut curhatan surip- yang sudah bertahun-tahun berusaha -paling tidak untuk- mendekati. Kisah nyata yang sebegitu nyata itu akhirnya cuma jadi epos atau vollkommen vergangen -meski tidak sepenuhnya seperti ini-. Kisah Surip ini hanya jadi kisah masa lalu yang tidak berbekas sama sekali; tidak berawal dan tidak berakhir alias tidak ber titimangsa.

Tentu, penjelenterehan kasus ini semata-mata hanya untuk kerpeluan akademik; bukan untuk membuka aib Surip; apalagi urusan cinta pribadi seperti ini memang penting gak penting; dan seperti disebutkan di awal: masuk kategori curhat yang tidak bisa dibaca banyak orang.

Yang kedua, adalah Curhatan yang layak dibaca banyak orang. Setidaknya saya memiliki 3 syarat untuk surhatan jenis ini. Nah, Curhat jenis kedua inilah yang sebenarnya ingin saya bagi secara mendalam kepada rekan-rekan. Untuk itu mari kita kembali ke pengertian paling mendasar dari curhatan,

Curhat atau curahan hati merupakan saat di mana satu orang mencoba untuk menceritakan sesuatu kepada orang-orang yang dianggap dekat, dan biasanya yang diceritakan itu masalah personal.” – ini sumbernya wikipedia lo; ndak main-main.

Kalau merujuk ke paklik wikipedia ini tentu memang seharusnya Curhatan itu bersifat personal (rahasia) dan tidak di umbar-umbar. Namun, bolehlah di jaman pra-robot yang didominasi sosial media ini kita mencoba memperluas maknanya; apalagi memang realitanya ndower majority pengguna media sosial tidak peduli dengan ta’rifan paklik wikipedia itu dan cenderung nyetatus curhat secara memanusia-buta.

Berangkat dari hal tersebut, akhirnya saya usulkan 3 syarat tadi, agar curhatan (yang seharusnya personal) tadi bisa di terima di muka umum. Dalam bahasa nahwu kita akan coba me-muta’adi-kan curhatan atau menjadikan benar-benar pantas sampai ke objek, alih-alih membiarkan curhatan -yang tidak pantas- yang lazim  kita temui dalam dunia media sosial merajalela.

Yang pertama, Curhatan sebaiknya dilandasari dasar-dasar yang kuat, tidak semata fanatik bola yang memakai jargon menang umuk kalah ngamuk -Menang sombong kalah marah-. Kita analogikan dengan tasydid; dari kata Asy-Syiddatu yang memiliki filosofi kuat atau penekanan.

Kedua, Curhatan mengandung solusi yang membangun bukan hanya kritik abal-abal. Solusi adalah titik penghubung dari kondisi yang tidak ideal ke kondisi yang diinginkan (sebagaimana Hegel; kritik muncul sebab pergulatan/benturan terhadap sesuatu yang sudah ada terhadap hal yang ideal/absolut). Dalam hal ini bisa kita analogikan dengan huruf jar yang berfungsi sebagai penghubung dua kalimat dan juga filosofi kerendahan hatinya (refleksi diri). Jadi sebaiknya ya rekan-rekan ini punya semangat perbaikan segala macam permasalahan yang dimulai dari diri sendiri.

Ketiga, Curhatan harus untuk kemaslahatan manusia di masa yang akan datang. Jadi boleh curhat di  muka umum hanya jika yang dicurhatkan ini urusan-urusan yang penting untuk masa depan orang banyak; yakni soal pendidikan, kemanusiaan, kesehatan umat, tolong-menolong, saling mengasihi, kedzoliman penguasa, pentingnya menabung (ini juga untuk masa depan hehe), harga bumbon murah dll. Dalam hal ini kita menggunakan analogi penambahan Hamzah; yang memiliki filosofi cita-cita masa depan (karena hamzah termasuk dalam huruf mudhoroaah).

Tetek-bengek syarat di atas tentu menggunakan kacamata santri. Kalau boleh; saya juga akan meminjam kacamata mahasiswa, yakni soal curhatan yang layak di ekspos hanya ketika memenuhi standar Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan, Pembahasan, Saran Kritik hingga Daftar Pustaka.

Dengan begini insyaAlloh curhatan rekan-rekan akan menjadi Curhatan Rahmatan lil Alamin. Kalau ndak mampu memenuhi hal-hal yang tersebut di atas, mungkin curhatan rekan-rekan bisa dikembalikan ke khittoh nya sebagai sesuatu yang privat dan konsumsi orang-orang dekat. Alamakkkkkk

Artikel berlagak santri lain: IPNU Yang Mampu Berbicara

Leave a Response