Cheng Ho dalam Seorang Zainudin Zidane

Generasi 80-an atau 90-an selalu berbangga diri dengan jargon, “Hanya generasi kita yang mengenal sepakbola Italia”; atau sebenarnya saya curiga bahwa generasi itu hanya korban TVRI yang tidak memberi pilihan selain sepakbola Italia. Untuk membuktikan hal ini saya perlu numpaki mesin waktu; berkelana jauh ke belakang pada dekade 90-an, saat sepakbola Italia berjaya.

Mbak sepupu saya adalah penggemar sepakbola Italia. Pada dirinya saya melihat perwujudan emansipasi wanita paling sejati. Bagi saya, pemahaman mendalam tentang sepakbola adalah usaha untuk menciptakan emansipasi wanita secara kaffah. Mbak sepupu saya ini begitu sempurna di mata saya; patokannya sepele. Jangankan menghafal jadwal sepakbola yang hanya akhir pekan; nama pemain dan nomor punggungnya pun telah dihafal diluar kepala meski hanya menggunakan media televisi 14 inch yang byar pet. Klub impiannya adalah Juventus. Alasannya sama sepelenya; sang penjaga gawang yang bernama Gianluigi Buffon itu sangat mirip Akshay Kumar. “Itu dek, mirip… mirip sekali kan… cocok banget dengan Maduri Diksit”, ujarnya kegirangan sambil menarik-narik kaos As-Roma saya. Uluhhhhhhhh.

Pada dekade 90-an saluran televisi dan tabloid didominasi oleh sepakbola Italia. Saya bisa diskusikan ini berjam-jam bersama mbak sepupu saya itu. Perang mulut sering terjadi, apalagi jalan hidup kita memang bersebarangan jagoan. Dia juventini sementara saya romanisti. Tapi soal kualitas sepakbola Italia pada saat itu; kita bisa segera berjabat untuk sepakat; kualitasnya terbaik di dunia. Liga terbaik di dunia tentu juga di huni pemain terbaik di dunia. Membicarakan soal ini di masa itu, takkan luput dengan maestro lapangan hijau bernama Zainudin Zidane – konon ini nama jawa dari seorang Zinedine Yazid Zidane.

Wok-ke, Mungkin soal nama sedulur-sedulur bisa berdebat. Tapiiiii soal kemampuan Zainudin ini rasanya tidak pantas kita berbeda apalagi hingga demo berjilid-jilid. Keampuhannya terbukti, meski entah islamnya pakai madzhab apa. Musim 1996-1997 saat pertama kali bergabung dengan Juventus, Mas Zainudin langsung menjuarai Seria A (liga domestik tertinggi di Italia) dan juga Piala Interkontinental. Di musim yang sama, ia berhasil membawa Juventus melaju hingga ke Final Liga Champion.

Zainudin, eh Zidane, saat bermain untuk Juventus

Dan… kembali ke masa kini di Tahun 2017, Kang Mas Zainudin ini sudah menjadi Bapak-bapak dengan empat orang anak. Jabatannya pun sudah berubah dari pemain menjadi pelatih. Hebatnya, ketika menjadi pelatih pun prestasinya tidak jauh berbeda. Tahun 2016/2017; terpaut dua dekade dari debutnya membela Juventus, ia menangani salah satu kesebalasan terbaik di dunia, yaitu Real Madrid. Seperti takdir, di tahun pertamanya sebagai pelatih penuh ia langsung membawa Real Madrid menjuarai La Liga, liga domestik tertinggi di Spanyol. Tidak hanya itu, ia juga membawa Madrid menjuarai Piala Dunia Antar Klub, yang dulu bernama Piala Interkontinental. Lebih aneh lagi; masih di tahun ini, ia juga berhasil melaju ke Final Liga Champion. Musuhnya pun tak asing di telinga: Juventus, kesebelasan yang pernah ia bela mati-matian dan sekarang harus dikalahkan habis-habisan. Nah Lo,  mungkin adegan kebetulan seperti ini hanya bisa diulang di dalam FTV.

Jadi, akan sangat menarik ketika kita menebak-nebak hasil apa yang akan diterima Pak Zainudin di laga final Minggu dinihari nanti. Bayangkan, ia harus ketemu sang mantan. Apalagi Mantan yang begitu indah dan bergelimang perhiasan piala sepakbola yang ia persembahkan sendiri. Akankah dia menang, ataukah dia akan mengalah demi kebahagiaan Juventus. Masalah ini tidak akan selesai dibahas dalam episode kali ini. Ada baiknya soal hasil ini kita serahkan pada para perumus nomor.

Dan yang lebih menarik adalah sebuah kisah turun temurun tentang bagaimana seorang Zainudin bisa begitu sukses dalam pengarungannya di lapangan hijau. Sebuah kisah yang mengatakan bahwa ada Cheng Ho yang menjelma ke dalam dirinya…

Cerita Bermula Dari Sini…

Zainudin kali ini dikenal sebagaiiii Zizou; ehm ini memang julukan asli seorang Zinedine Zidane.

Kesetiaan dan loyalitas Cheng Ho pada Kaisar Yongle tidak perlu di pertanyakan. Dalam insiden penangkapan perompak bernama Chen Zuyi, sejatinya Cheng Ho memiliki kesempatan untuk menghakimi perompak itu saat itu juga, mengingat ia dibekali kekuatan militer yang sangat besar dan berjarak ribuan kilometer dari Kaisar Yongle. Namun nyatanya ia memutuskan untuk menghormati otoritas; untuk tetap setia kepada Kaisar Yongle yang sudah mendidiknya sepeninggal Ayahnya. Ia repot-repot membawa Chen Zuyi hidup-hidup dan menyerahkan keputusan pada sang Kaisar. Pun, walaupun sang Kaisar telah meninggal pada Tahun 1424, Cheng Ho mengukir dalam dua prasastinya di Tahun 1431, bahwa dia ditugaskan oleh Kaisar Yongle. Sebuah pengakuan.

Sementara itu, Tahun 2001 Zizou bergabung dengan raksasa sepakbola Real Madrid. Musim itu Zizou jadi pemain paling mahal seantero jagad. Seperti cerita yang sudah-sudah, Zizou selalu membawa kesuksesan dimanapun ia berkhidmat. Di musim pertama ia langsung mempersembahkan trofi Liga Champion. Pada saat itu, para pemain Madrid mendapat julukan Galacticos; karena dihuni pemain-pemain paling mahal dari seluruh dunia. Titik ini juga menjadi sejarah kesenjangan sosial hebat di dunia sepakbola. Selepas menjadi pemain –Real Madrid adalah klub terakhirnya sebagai pemain— Zizou mengambil jalur kepelatihan. Jenjang demi jenjang ia lalui dengan tekun. Mulai jadi asisten pelatih, pelatih tim junior hingga jadi pelatih tim utama seperti sekarang. Sejak menjadi pemain hingga pelatih ia telah mendedasikan beberapa prasasati bertuliskan Real Madrid dalam bentuk piala-piala kemenangan. Tidak sampai di situ, ke empat-empat anaknya ia sekolahkan di akademi Real Madrid. Apa namanya ini kalau bukan Kesetiaan Pada Otoritas (Allegiance to Authority), ;A-A; salah satu dari lima rumus Cheng Ho yang ditulis Hum Sin Hoon dalam buku Zheng He’s Art of Collaboration.

Enzo, salah satu anak Zidane yang dibesarkan di akademi Madrid; dan kini sudah menembus skuad utama di bawah kepeatihan ayahnya

Band of Brothers (B-B), atau Ikatan Persaudaraan adalah rumus Cheng Ho yang lain. Cheng Ho di kenal sebagai pemimpin yang sangat perhatian dengan awaknya. Terbukti suatu ketika wakilnya, Wang Jinghong sakit dan Cheng Ho menyempatkan untuk merawatnya sendiri. Tentu ini menimbulkan ikatan persaudaraan yang kuat. Selain itu, Cheng Ho juga begitu cakap dalam pendelegasian tugas. Dalam pelayarannya yang ke enam, Cheng Ho membagi pasukannya ke beberapa skuadron karena sadar harus menempuh beberapa tujuan. Zhou Man ditugaskan memimpin armada ke Aden dan Afrika, sementara Cheng Ho kembali ke Tiongkok. Pun, pada pelayarannya yang ketujuh giliran Hong Bao yang memimpin pasukan ke Hormuz dan Afrika sementara Cheng Ho menempuh arah yang lain.

Begitupun Zizou dikenal sebagai pelatih yang sangat dekat dengan pemain.

“Saya datang di era Jose Mourinho, dan dia (Zidane) lebih dekat dan peduli dengan para pemainnya,” – Esteban Granero

Ini hanya satu dari sekian kesaksian, baik pemain, mantan pemain, petinggi maupun legenda Madrid akan kedekatan seorang Zizou dengan anak asuhnya. Selain itu terobosan Zizou dalam membagi tim menjadi Tim A dan Tim B menjadikan semua punggawa Madrid berkesempatan mencapai menit yang lebih banyak. Pemain sekaliber James Rodriguez ia percaya untuk memimpin Madrid B; dan ketika dipercaya mereka membuktikan sebagai pengarung lapangan hijau yang tidak kalah tangguh dengan Christiano Ronaldo cs di Tim A. Beberapa kali pemain senior mendapatkan kesempatan menjadi captain, seperti Sergio Ramos, Ronaldo dan Marcelo. Pun di bawah Mistar, Kiko Casilla dan Keylor Navas sama-sama di beri kesempatan tampil. Adegan semprotan sampanye kepada Zizou di tengah-tengah konferensi Pers pasca juara La Liga, menunjukkan hubungan yang dekat sebagai saudara melebihi sebatas pelatih dan pemain. Kemampuan Zizou mendelegasikan squad ini, tidak hanya menumbuhkan kepercayaan dan ikatan yang kuat, namun juga memastikan kesejahteraan dan kebahagiaan pemain dalam bentuk menit tampil yang maksimal. Apa lagi yang diinginkan seorang pemain selain menit tampil wujud kepercayaan dari seorang pelatih. Pada titik ini, Zizou tidak hanya praktikkan rumus B-B ala Cheng Ho, melainkan juga C-C alias Care of Crew –Kepedulian Terhadap Awak— dan pemain begitu mencintainya.

Pemain merasa dekat dengan Zidane

Doing due Diligence; (D-D) atau Uji Tuntas. Sebelum ketujuh pelayarannya yang bersejarah, Cheng Ho adalah tentara darat yang handal di berbagai pertempuran. Jadi, ketika Kaisar Yongle menunjuknya untuk misi pelayaran Xia Xiyang, itu sama sekali hal yang baru. Lebih-lebih  ia mesti membawa ratusan kapal dengan puluhan ribu awak yang harus mengarungi rute laut dari China ke Asia Tenggara, India, bahkan kemudian Arab dan Afrika yang sama sekali belum dikenalnya. Tentu ini membutuhkan Uji Tuntas yang luar biasa, baik meliputi pemahaman yang paling dalam dari diri sendiri hingga ke medan yang akan di tempuh. Pemahaman yang matang –meski berbekal pengetahuan di darat— inilah yang menyebabkan Cheng Ho pandai berkolaborasi. Mungkin inilah yang menyebabkan Cheng Ho juga mengambil potensi ekonomi, alih-alih hanya berlayar dalam upaya menyebarkan kedamaian. Itu yang tidak dilakukan Hou Xian selama 25 tahun memimpin pasukan Tiongkok.

Pun Begitu… Zizou adalah orang yang sangat tuntas mengenal Sepakbola. Pengalamannya sebagai pemain, asisten pelatih dan pelatih; masih ditambah pengetahuannya akan globalitas sepakbola karena pernah bermain di Prancis, Italia dan Spanyol menyebabkan kemampuan taktikalnya utuh. Musim ini saja Zizou sudah menggunakan 5 formasi berbeda (4-3-3 –formasi andalan—, 4-1-4-1, 4-2-3-1, 4-3-1-2, dan 4-4-2) untuk kondisi yang berbeda pula. Varian ini tidak hanya menjadi senjata ampuh yang mampu meruntuhkan strategi musuh, namun juga memberi banyak kesempatan kepada berbagai macam tipe pemain untuk bisa membuktikan kemampuan. Hasilnya, 24 nama dari skuad yang didaftarkan semuanya telah mengecap menit main. Pengetahuannya yang tuntas, mengenai diri sendiri –klub dan squad— dan juga medan tempur –Zizou bahkan catatkan rekor kemenangan di kandang lawan— mengingatkan kita kepada kelihaian Cheng Ho dengan tujuh pengarungan samuderanya.

Zidane, pemimpin dan juru taktik yang handal

Dan yang kelima, Embracing the Eternal; (E-E); yakni Pengakuan Pada Yang Mahakuasa. Cheng Ho dikenal sebagai muslim yang taat. Aspek keyakinanan personalnya kepada sang pencipta tertulis dalam prasasti Liujiagang:

Kami telah mengarungi ratusan ribu kilometer samudera luas dan menghadapi ombak yang menggelora, dan yang terus membesar seperti tiada hentinya. Baik dalam kabut tebal dan guyuran hujan atau tiupan angin kencang, tidak peduli akan akan perubahan kondisi laut yang tiba-tiba, kami tetepa mengembangkan layar dan terus berlayar di bawah tuntunan bintang-bintang siang dan malam. Jika kami tidak percaya pada kebesaran Ilahi, bagaimana kami bisa melakukannya dengan tenang dan aman? Saat kami dalam bahaya, begitu kami berseru pada nama Ilahi, dia akan terus menolong kami.

 Sebagai pria berdarah Aljazair, Zizou pun telah mengenal Agama Islam sejak kecil.

“Shalat adalah sumber kekuatanku. Karena setelah shalat, hati serasa tenang,” – Zizou –

Zidane, menurut rekannya adalah muslim yang taat, meski agak tertutup soal agamanya

Demikian cerita seorang Cheng Ho dan Zizou berakhir disini…

Sidang Jumah yang berbahagia, tentu kisah ini memang diciptakan atas cocoklogi semata. Jika ada kesamaan di beberapa bagian itu karena memang di sama-sama kan. Poin AaEe yang panjang bin lebar di atas bisa jadi tidak akan berarti apa-apa. Atau justeru hanya akan jadi kisah yang tak berakhir manis andaikata minggu dinihari nanti Zainudin gagal memboyong prasasti Liga Champion. Apalagi, sudah menjadi rahasia emak-emak semua, pertemuan Zainudin dengan mantannya –yang si nyonya tua itu— tentu akan membuka luka-luka lama. Lalu, bagaimana kalau sang Mantan berteriak histeris, “Kenapa kau dulu meninggalkan aku bang? Karena ulahmu hidupku terpuruk hingga ke jurang degradasi. Abang Zainudin jahattt!!! Aku emoh karo Abang!!!”

Terkait
Terbaru

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu