Remaja Darurat Moral

Mei 03, 2024

Oleh: M. Nursutan Indra Mukti - Masa remaja merupakan fase transisi dari usia anak-anak ke usia dewasa dengan muncul tanda-tanda perubahan meliputi fisik dan psikologis. Dari sisi psikologis dapat terlihat dari daya kritis, rasa ingin tahu, dan semangatnya yang mengebu-gebu mulai terlihat terutama dalam mencari jati diri atau passionnya. Ditambah lagi usia remaja yang mana masuk usia jenjang pendidikan tentunya mendukung kaum remaja sarat akan prestasi dan ide-ide kreatif. Karakter demikian akan terbentuk apabila diimbangi dengan pendidikan karakter yang memadai. Percuma saja otak cerdas tetapi tidak dibarengi moral yang bagus. Di zaman sekarang jarang sekali ada orang tua yang masih membatasi ruang gerak anaknya. Berbeda dengan orang zaman dulu, anaknya dikekang untuk menjadi apa yang diinginkan orang tua. Namun adanya kebebasan remaja memilih passionnya menjadi kekhawatiran tersendiri ketika terlepas sepenuhnya dari pengawasan orang tua. Peran orang tua dalam memberikan pendidikan moral sejak dini terhadap anaknya akan sangat berarti di kemudian hari saat anak menginjak usia remaja. Dengan asupan pendidikan agama yang cukup, anak diharapkan mampu untuk membedakan pergaulan yang baik dan buruk. Sehingga dapat memilih pergaulan yang membawa hal-hal positif tentunya. Sekali lagi bukan karena pengekangan orang tua melainkan dengan dukungan orang tua. Ironinya banyak kaum remaja malahan keliru mencari lingkungan yang mendukung, kurang mendapat pendidikan agama, dan berimbas terjerumus menjadi pelaku tindak kriminal. Perilaku menyimpang remaja seperti, mabuk-mabukan, tawuran, hubungan di luar nikah marak terjadi dikalangan masyarakat. Hal tersebut akibat dari kurangnya perhatian pihak terkait seperti keluarga, instansi pendidikan, tokoh agama dan lingkungan dalam upaya pembenahan moralitas generasi mudanya. Kebanyakan remaja yang terlibat dalam aksi kenakalan remaja adalah mereka yang tidak di-back up secara intensif dari pihak-pihak tersebut. Akhirnya mereka mudah terbawa pergaulan yang salah. Seringkali terlihat di pinggiran jalan terdapat sekelompok remaja dengan tampang preman, bertato, telinga bertindik dan lain sebagainya. Masyarakat enggan membimbing mereka bahkan mendekati pun tidak mau. Sayangnya, edukasi nilai moral terkesan berlingkup hanya di lingkungan yang dianggap sudah baik. Sedangkan kelompok remaja yang sudah terjangkit perilaku menimpang kurang mendapat perhatian. Hal ini yang harus menjadi introspeksi para pemegang kebijakan dari pihak pemerintah maupun ormas agama untuk tidak meninggalkan mereka. Sebagai solusi yang dapat diberikan untuk menanggapi fenomena tersebut adalah pengintensitasan pendidikan agama Islam. Ajaran Islam sangat memperhatikan bagaimana manusia berperilaku di dunia sosial. Nabi Muhammad Saw sebagai Uswatun hasanah menjadi role model terbaik dalam membina moralitas masyarakat terkhusus kaum remaja. Pengarahan remaja kepada kegiatan-kegiatan keagamaan akan memberikan dampak yang signifikan ketika hal itu digarap dengan sungguh-sungguh. IPNU IPPNU berupaya akan hal demikian yaitu mewadahi kaum remaja untuk bisa mengembangkan dirinya dan tidak terlepas dengan penenaman ajaran moralitas agama. ipnujateng.or,id