IPNU-IPNU; Pendidikan Alternatif Masyarakat

Apr 20, 2024

ipnujateng.or.id- Pernah terlintas di kepala saat mengikuti sebuah pelatihan, bahwa satu-satunya kekuatan IPNU dan IPPNU adalah loyalitas dan militansi kadernya terhadap organisasi. Barangkali dawuh Syaikhona Hasyim Asy’ari - “sopo sing nguripi NU bakale tak anggap dadi santriku, sopo wae sing dadi santriku tak dongakke mlebu suwargo” – stimulus paling ampuh bagi Rekan dan Rekanita. Kalau dipikir-pikir kalimat Syaikh Hasyim agak begitu abstrak dan sangat bernuansa langit untuk sebuah jaminan atas loyalitas pada organisasi NU; surga. Begitu ampuh sekali dawuh beliau, kalimat yang sederhana, teduh, dan terkesan sedikit berbau doktrin mampu menjadi bahan bakar para Rekan dan Rekanita. Hormat takdhim setinggi-tingginya untuk Syaikhona Hasyim Asy’ari, Al fatihah!. Pasti banyak sekali motif yang menciptakan loyalitas dan militansi para kader IPNU dan IPPNU, tapi penulis belum ingin memikirkan hal itu. loyalitas dan militansi ternyata bukan satu-satunya ultimate yang dimiliki Rekan dan Rekanita. Setelah melalui proses berfikir yang lumayan panjang – seperti filsuf, hehe – tentang kekuatan-kekuatan apa saja yang dimiliki IPNU dan IPPNU, akhirnya ketemulah beberapa jawaban. Dengarkan baik-baik! Rekan dan Rekanita memiliki kekuatan yang sangat menonjol selain loyalitas dan militansinya terhadap organisasi, yaitu mampu konsisten mengkonsumsi Nasi Muslimat pada setiap acara yang diselenggarakan. Haha bercanda. Bukan, bukan itu kekuatan besar IPNU dan IPPNU, tapi bawha Rekan dan Rekanita konsisten mengkonsumsi Nasi Muslimat di setiap acara adalah nyata! Hehe. Dan yang lebih nyata, Nasi Muslimat memanglah enak dan penuh cinta. Hormat Takdhim setinggi-tingginya untuk Mamak-mamak Muslimat. Al fatihah!. Buanyakk sekali kekuatan yang dimiliki IPNU dan IPPNU. Penulis sebutkan satu saja, sisanya rekan-rekanita refeleksikan sendiri!. Yaitu adalah, IPNU dan IPPNU menjadi isntitusi pendidikan alternatif yang sangat mudah diakses oleh pelajar di Indonesia. Mengapa alternatif? definisi alternatif adalah sebuah pilihan diantara dua atau beberapa kemungkinan. Atau singkatnya, pendidikan alternatif yaitu proses pemberdayaan peserta didik yang dilakukan berbeda dari cara yang biasa dilakukan. Dan sangat jelas, IPNU menjadi institusi pemberdayaan peserta didik yang berbeda dengan lembaga pendidikan meanstream yaitu ‘sekolah formal’. Tentu saja sekolah formal menjadi lembaga pendidikan yang meanstream, mayoritas orang mencari ilmu melalui sekolah formal. Saking meanstrimnya sekolah formal, beberapa orang (yang pasti bukan rekan-rekanita!) memanggap sekolah formal sebagai satu-satunya tempat yang menyediakan sumber pengetahuan. Menurut penulis, anggapan tersebut termasuk salah satu kebodohan yang sulit terampuni. Lhaaa wong sumber pengetahuan moshok Cuma di dapatkan dari sekolahan formal, menyedihkan sekali heuheuheu. Bukankah pendidikan tidak hanya sesuatu yang melulu diajarkan di sekolah formal. Dan sekolah formal bukanlah satu-satunya pabrik yang memproduksi ilmu pengetahuan, tetapi kalo ‘pabrik ijazah’ mungkin saja iya. Pendidikan alternatif memberikan ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk menjadi subjek dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dengan tidak terbatasi aturan akademik yang begitu ketat seperti sekolah formal. Dan IPNU-IPPNU melakukan itu, memang suangar IPNU dan IPPNU kii. Proses transfer pengetahuan yang dilakukan IPNU tidak membutuhkan gedung dan ruang kelas sebagai prasyarat utama. Semua tempat mampu menjadi sarana belajar yang menarik (pantai, di bawah pohon, lapangan, halaman, dll), ya walaupun tetap menggunakan gedung (gedung madrasah, gedung MWC, gedung pesantren, dll) tapi sekali lagi itu bukan menjadi prasyarat utama bagi IPNU. Satu lagi perbedaan IPNU dan IPPNU dengan lembaga sekolah formal, dan itu menjadi penanda ke’alternatifan’ IPNU dan IPPNU sebagai institusi pendidikan. Yaitu melibatkan pengetahuan lokal sebagai sumber pengetahuan yang terus digali dan dikembangkan. Contoh mudahnya: salah satu PAC yang membuat pelatihan penggunaan e-comerce karena mayoritas masyarakat sekitar dan anggota PAC tersebut berprofesi sebagai pedagang. Contoh mudahnya lagi: salah satu PAC yang berada di daerah dengan profesi mayoritasnya adalah petani melakukan sebuah pelatihan tentang pembuatan pupuk organik cair dan pembuatan hydroponic. Rekan-Rekanita bisa menentukan sendiri apa yang akan dijadikan sumber pengetahuan sesuai dengan kebutuhan komunitasnya. Atau mungkin bahkan bisa mengutak-atik kurikulum pembelajaran/pengkaderan sesuai kebutuhan dan kemampuan di tiap-tiap tingkatan kepengurusan. Itulah yang disebut pendidikan berbasis komunitas (community based education), sebuah pendidikan yang tidak terlepas dari pengetahuan lokal komunitas masyarakat beserta masalah-masalahnya. IPNU adalah bagian dari masyarakat, bahkan lahir dari rahim rakyat. “Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat” – dawuh KH. Tholhah Mansur. Untuk urusan yang berhubungan dengan masyarakat, bagi penulis IPNU dan IPPNU selalu menang di banding sekolah formal, asekkk. Hampir semua kegiatan yang di produksi oleh Rekan-Rekanita selalu berhubungan dengan masyarakat. Proses berhubungan dengan masyarakat itulah yang menjadi ruh kegiatan belajar mengajar bagi IPNU-IPPNU. Hal-hal seperti interaksi dengan masyarakat setempat, mengalisis lingkungan sosial, memposisikan diri (standing position) memiliki prosi yang lebih banyak pada proses pembelajaran IPNU dan IPPNU dibandingkan dengan sekolah formal. Haqul yaqin!. Rasa-rasanya IPNU dan IPPNU menjadi pelengkap sekolah formal sebagai institusi pendidikan. IPNU hadir sebagai tempat belajar alternatif di tengah problem meantream pelajar sekolah: jam sekolah yang lama, kegiatan yang itu-itu saja, mata pelajaran yang begitu banyak tanpa mengerti fungsi dari mata pelajaran itu sendiri, dianggap bodoh karena tak pintar matematika (hahaha), dll. Dahaga kreatifitas pelajar bisa terfasilitasi oleh proses-proses kegiatan IPNU dan IPPNU. Tapi bukan berarti sekolah formal tidak penting, tetap penting wirrr!. lalu apa feedback yang akan didapatkan dari mengikuti IPNU-IPPNU? Apakah dia menjaminkan ijazah dan kesuksesan?. Jawabannya iya, ijazah berupa sertifikat (Makesta, Lakmud, dan pelatihan-pelatihan lain) wkwkwkwk. Yaaa, anggap saja itu sebagai ijazah tertulis untuk proses-proses yang sudah di lakukan. Tetapi yang lebih penting adalah proses-proses itu sendiri. Untuk pertanyaan tentang jaminan kesuksesan, penulis tidak ingin membahasnya. Rekan dan Rekanita bisa membaca sendiri pada kolom NUTIZEN dengan kategori TOKOH. Disana terdapat beberapa tulisan tentang kesuksesan alumni dari IPNU dan IPPNU. Penulis sangat yakin proses belajar yang di dapatkan dari IPNU dan IPPNU sedikit banyak memberikan sumbangsih atas kesuksesan para tokoh tersebut. So, kita patut berbahagia menjadi bagian dari organisasi bernama IPNU dan IPPNU – organisasi yang menjadi sebuah institusi pendidikan pelengkap dari proses belajar mengajar di sekolah formal. Organisai yang menjadi candradimuka para pelajar untuk ngangsu pengalaman dan pengetahuan dengan riang gembira, dan tentunya dengan terus menikmati Nasi Muslimat!. Tabik.