Berproses Sampai Mati

Saya berfikir, sepanjang hidup saya ini sudah dipenuhi dengan begitu banyak proses. Saking buuuanyaknya, ada yang saya sadari langsung, ada yang saya sadari setelah diingatkan teman, atau malah ada yang tidak sempat saya kenali sama sekali. Dari begitu banyak proses, beberapa saling berkaitan dan sebagian lagi bisa jadi sedang atau akan berkaitan. Tergantung sejauh mana akal dan fikir saya ini mampu menjangkau.

Tahun-demi-tahun di SD sungguh masa yang lucu. Ini sebuah proses. Enam tahun lamanya. Lalu, kelas-demi-kelas di SMP adalah masa yang serius. SMP saya dulu adalah SMP Favorit se-Kabupaten. Ini juga proses. Tingkat-demi-tingkat di SMA adalah masa yang campur-aduk. Masa mbolos paling banyak sepanjang hidup, tapi toh lulus juga. Ini juga proses. Masing-masing proses itu; masa lucu, serius dan campuran juga hanya bagian kecil dari proses yang sekarang kita kenali dengan ‘Wajar 12 tahun’. Ehem, jadi… kalau sampeyan cuma sekolah sampai SD, bolehlah ‘pemerintah’ melabeli sampeyan ini tidak wajar. Ingat, cuman tidak wajar. Tapi, setidak-wajar tidak-wajarnya sampeyan harus tetap bersyukur. Melihat tagline pemerintah yang seba kerja… kerja… dan kerja, saya curiga pemerintah akan segera membuat program ‘Waras 50 Tahun’ alias Wajib Kerja Keras. Sehingga ketika sampeyan nganggur, jadilah sampeyan sah Tidak Waras secara Pemerintah. Nah to!

Oke, tidak masalah pemerintah mau berkata apa. Karena sesungguhnya pemerintah hanyalah salah satu bagian resmi dari hidup kita. Lebih banyak proses tidak-resmi yang mewarnai kehidupan ini. Membuat teh butuh proses. Setor ke WC pun butuh proses. Pemerintah tidak boleh ikut campur sebanyak apa gula yang harus kita tuang, atau selama apa kita harus ngantri di WC kos-kosan.. Mengejar wanita idaman juga proses tidak-resmi. Anehnya, setelah jadian, saking senengnya lalu sampeyan umbar kemana-mana, “Alhamdulillah ya, akhirnya kita resmi jadian.” :v

Ya begitulah. Ada banyak keanehan dan pertanyaan dalam kehidupan saya dan sampeyan. Saya ini siapa, sampeyan itu siapa, dan untuk apa Tuhan mempertemukan kita di dalam tulisan ini. Pasti ini bukan kebetulan. Pasti ini tanda-tanda dari Tuhan tentang saya dan sampeyan, yang setelah ini akan menjadi kita. Ciyeee…. ciyeeee….Jleb. Tapi toh, bukankah memang begitu seharusnya. Tidak ada hari tanpa pengetahuan baru, dan sesungguh-sungguhnya pengetahuan baru hanya akan melahirkan pertanyaan yang baru juga. Kita berproses dalam segala hal. Di kehidupan pribadi, asmara, keluarga, pekerjaan, termasuk ketika berorganisasi. Tidak mengetahui sesuatu bukan berarti kita kudu berhenti di tengah jalan. Jangan berhenti di tengah jalan, di hal apapun, sebelum kita sempat memilikinya. Saya kutip liryc ‘Memiliki Kehilangan’-nya Letto,

Rasa kehilangan hanya akan ada, Jika kau pernah merasa memilikinya

Sering kan, kita meninggalkan sesuatu begitu saja. Tanpa menyesal karena kehilangan. Jika sudah begitu, proses kita berpotensi menjadi sia-sia karena kita belum sampai tahap ‘memiliki’. Padahal, jiwa raga dan tenaga akan mencapai pucuk tertinggi hanya ketika kita merasa memiliki. Sebuah masakan yang tidak enak yang kita beli di restoran akan dengan mudah kita sumpahi. Sementara sebuah masakan yang kita buat sendiri dengan penuh cinta dan romantika dapur akan coba kita bela hidup dan mati. Seburuk apapun rasa, kita akan coba meyakinkan bahwa masakan itu hanya kekurangan garam. Lain waktu, kita akan mencobanya lagi dengan menambahi garam sedikit-demi-sedikit. Tapi ingat jangan kebanyakan karena bisa jadi sangat beresiko. Saya tahu sampeyan, seperti juga saya, takut dikira pengen nikah cepat-cepat di saat jodoh belum juga muncul. Aihhhh.

Sampai saat ini, saya masih terus berusaha memahami apa-apa yang saya jalani. Saya tidak berniat meninggalkan kehidupan saya, yang bagi saya sudah begitu penuh dengan karunia. Ketika saya mengharapkan sesuatu yang baik di masa mendatang, pastilah harus mulai diperbaiki dari sekarang. Satu-demi-satu. Mulai dari hal yang paling kecil hingga ke hal-hal yang lebih besar. Saya mencoba sepenuh hati untuk setia kepada proses. Saya berusaha memiliki setiap bagian dari kehidupan saya. Saya berusaha menghadirkan cinta di dalam keluarga, pertemanan hingga pekerjaan. Saya berusaha melindungi setiap proses di kehidupan ini agar tidak menjadi sia-sia. Bung Prie GS menulis, ‘Banyak masa kini sibuk dikecewai daripada disetiai.’ Saya dan sampeyan, yang telah menjadi kita, akan membuktikan kalau itu salah. Kita ini pemuda yang mempunyai ber-giga-giga kekuatan untuk tetap setia di suka dan sedih kehidupan. Mari satukan kelingking kita dan berjanji, bahwa kita akan setia berproses selama kita masih merasa hidup. Hidup di dunia hingga hidup di akherat.  Ciyeee.

Terkait
Terbaru

More Similar Posts

1 Comment. Leave new

[…] Tentu saja bisa saudara-saudara, laiya program Waras… biar semua jadi waras. Program Waras (Baca: Berproses Sampai Mati) ini tentu saja adalah program ‘Wajib Kerja Keras’ dengan slogan Kerja… Kerja… Kerja… […]

You must be logged in to post a comment.
Menu