Awas Waswas Mahasiswa Baru Universitas Negeri Semarang

Kata awas bertetangga dengan istilah waswas, apalagi bagi mahasiswa baru, istimewanya bagi mahasiswa baru Unnes. Yang membuat awas, bahwa terdapat dikotomi mahasiswa dalam dunia kampus, mahasiswa aktifis dan mahasiswa akademisi, namun di Unnes dikotomi tidak berlaku, yang ada mahasiswa Unnes terbagi menjadi banyak kategori. Mahasiswa baru juga bisa menjadi waswas dalam memilih kategori atau tipe mahasiswa mana yang akan mereka pilih. Akulturasi antara masyarakat asli wilayah sekitar Unnes dengan mahasiswa dan para pendatang menjadi faktor penarik keberagaman dan mendorong banyaknya tipe mahasiswa Unnes.

Berikut ini adalah tipe-tipe mahasiswa Unnes yang jumlahnya cukup banyak

1. Mahasiswa aktifis

Kategori pertama ini adalah yang paling mudah dikenal di Unnes. Mahasiswa aktifis adalah mereka yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Mahasiswa aktifis pun dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, mahasiswa nasionalis, yaitu para mahasiswa aktifis yang hanya aktif di intra kampus seperti BEM atau DPM saja. Kategori kedua adalah mahasiswa ekstra kampus, yaitu mahasiswa yang aktif di organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, IPNU-IPPNU, GMNI, KAMMI, dan IMM. Sedangkan kategori ketiga adalah aktifis intra kampus yang juga aktif atau setidaknya kader dari organisasi ekstra kampus.

2. Mahasiswa akademisi

Tipe kedua ini merupakan kumpulan mahasiswa yang sangat tekun terhadap akademiknya. waktu mereka di kampus banyak dihabiskan di perpustakaan dan biasanya mereka rajin membuat proposal penelitian seperti PKM dan ikut mendaftar sebagai mahasiswa berprestasi (Mapres). Sebagian dari mereka juga aktif di organisasi, namun kegiatan berorganisasi hanya dilakukan sambil lalu saja. Mereka juga biasanya bergabung dengan komunitas penelitian.

3. Mahasiswa Kupu-kupu

Tipe ini disebut mahasiswa kuliah-pulang, disebut demikian karena mereka biasanya mereka datang ke kampus untuk kuliah kemudian pulang ke kos dan mudik ke kampung halaman pada akhir pekan. Mahasiswa kategori ini termasuk yang mayoritas di Unnes. Tidak sedikit dari mahasiswa kupu-kupu ini yang sangat tekun kuliah, namun  itu hanya dilakukan untuk mengejar indeks prestasi saja.

4. Mahasiswa Santri

Mahasiswa santri merupakan kumpulan mahasiswa yang secara tradisi dan budaya paling dekat dengan masyarakat setempat meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Mahasiswa santri dibagi dua, pertama berasal dari pondok-pondok pesantren di sekitar Unnes. Setidaknya terdapat tujuh pondok pesantren yang ada di sekitar Unnes. Kedua, mereka para alumni Pondok Pesantren yang menjadi takmir masjid atau aktif dalam kegiatan agama di kampus atau lingkungan sekitar.

5. Mahasiswa Agamis

Mahasiswa agamis berbeda dengan mahasiswa santri, mahasiswa agamis sebagian besar tinggal di kost khusus yang dinamakan Ikhwanul Rasul (IR) dan sebagian lagi tinggal di asrama. Jumlah mereka secara eksplisit lebih banyak dan lebih dominan di lingkungan kampus. Namun secara implisist….? ah pembaca bisa lihat sendiri nanti. Selain itu juga terdapat mahasiswaagamis dari kalangan non-islam, terdapat wadahnya yang diakui oleh universitas namanya UKK (unit kerohanian kristen) dan UK3 untuk katolik.

Mahasiswa baru harus awas dengan berbagai tipe ini sedangkan mahasiswa yang telah masuk ke dalam tipe-tipe ini bisa menjadi waswas karena memiliki tuntutan lebih, tuntutan dari  seorang bernama mahasiswa. Tidak hanya sekedar aktif atau menjadi akademisi, santri, atau apapun tetapi juga harus memiliki muatan tertentu. Kalau kita istilahkan dengan bahsa sekarang, mahasiswa harus ikut mendidik bangsa. Masyarakat kita semakin kritis sehingga predikat aktifis atau akademisi di kampus tidak lagi penting. Maka dari itu perlu pula bagi mahasiswa, siapapun itu untuk bisa bersikap kritis dan tanggap dengan kondisi lingkungannya.

Mari kita sedikit kesampingkan makna mahasiswa dari sisi tingkatan pendidikannya. Mari kita lihat posisi mahasiswa sebagai orang yang sedang menuntut ilmu atau bahasa sederhananya pelajar.

Sejauh yg saya ketahui, penggunaan kata pelajar dalam Islam lebih banyak menggunakan kata Thalib atau Muta’allim, hanya biasanya setelah itu ada qaid (pengikat) yang menjelaskan dilevel mana dia berada misalnya Thalib Ibtida’i, Tsanawi, atau ‘Ali, atau jika dikaitkan dengan lembaga tinggi, maka sering disebut dengan Thalib Jami’i. Penggunaan kata ini, dipandang sangat ideal, tepat, dan menginspirasi pelakunya untuk menempatkan dan memposisikan dirinya pada status dia sebagai “Pencari”.

Ketika saya Aliyah dulu, guru saya selalu menekankan bahwa seorang Thulab harus mampu mulang ngaji dan dadi bos setelah dia lulus. Artinya jika kita melihat posisi mahasiswa sebagai tingkatan tertinggi dari seorang pelajar, maka wajib hukumnya bagi mahasiswa untuk mulang ngaji artinya menurunkan ilmunya kepada masyarakat dengan turut membimbing masyarakat tersebut agar semakin baik.

Membangun masyarakat yang benar-benar baik sekarang susah setengah mati. Ayo dong mahasiswa Unnes dari berbagai tipe yang saya sebutkan di atas turut memberikan sumbangsih. Tidak peduli kita masuk tipe apa yang penting kita sebagai mahasiswa bisa turut mendidik bangsa setelah lulus nanti. Kita tidak hanya jadi penonton tapi juga menjadi pemillik dari masyarakat. ya, kita memiliki masyarakat karena kita bagian dari masyarakat Indonesia.

Selamat Berjuang Mahasiswa Baru, pilihlah jalan yang sesuai nuranimu dengan tujuan akhir yang sama, membangun bangsa. Mahasiswa adalah aset negara yang perlu diselamatkan…

Awas tapi jangan waswas hehee

(Farid Luthfi A)

Terkait
Terbaru
Nutizen

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu