Aswaja Sebagai Landasan Berfikir Dan Bersikap

Aswaja merupakan kependekan dari ahlussunah waljama’ah (ahlun : keluarga, assunah : perkataan nabi, wal jama’ah : pengikut nabi ; tabi’in, tabi’it tabi’in, ulama) . Aswaja merupakan suatu faham yang muncul saat faham mu’tazilah sedang naik daun dan bahkan sempat menjadi faham resmi negara. (Mu’tazilah : faham yang mengedepankan al qur’an dan akal. Alqur’an adalah makhluk dan bukan qodhim). Sehingga pemikiran aswaja muncul sebagai koreksi (tanggapan) terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan khalifah dinasti bani abbasiah pada waktu itu.

Akan tetapi yang akan kita bahas di kesempatan kali ini bukanlah asal usul, sejarah, dan awal berdirinya faham ahlussunah wal jama’ah. Melainkan inti sari atau makna dari faham ahlussunah wal jama’ah itu. Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang aswaja sebagai landasan berfikir dan bersikap (bergerak), kita harus tahu dulu bahwa ruang lingkup aswaja itu dibagi menjadi tiga bagian : aqidah (keyakinan, kepercaya’an, landasan dasar agama islam), Fiqih (hubungan manusia dengan Alloh : ibadah sholat,zakat, puasa, dsb ), syari’ah (hubungan sesama manusia : berdagang, politik sosial). Dan sebelum kita lanjutkan, perlu kita ketahui juga tokoh aswaja di masing – masing bagian aswaja. Aqidah : imam abu musa al As’ary (pencetus faham aswaja yang bermadzhab syafi’i. Pengikutnya disebut as’ariyyah), Imam abu manshur al mathuridi (Pengikutnya disebut maturidiyyah). Dalam bidang fiqih, aswaja berpedoman pada pendapat dan faham dari 4 madzhab fiqih (Madzhab syafi’i, khambali, hanafi, dan maliki ). Dan dalam bidang tasawuf, aswaja berpedoman pada (Imam al ghozali, imam al junaidi al baghdadi).

Selanjutnya yang akan kita bahas adalah prinsip dasar dari aswaja yang nantinya harus kita jadikan landasan kita dalam berfikir dan bersikap. Karena aswaja adalah jalan bukan tujuan. Dan prinsip dasar itu ada 5 yaitu : tawasuth, tasamuh, tawazun, ta’adul, dan amar ma’ruf nahi munkar.

*) Tawasuth : Bersikap moderat, tidak memihak ke satu pihak, tidak ke kiri-kirian dan ke kanan kananan. Kalau kita bisa ambil makna kata lain dari tawasuth adalah wustho’/wasit. Ya, sering kita mendangar kata wasit. Yang selalu andil dalam setiap pertandingan, dimana syarat menjadi seorang wasith tidaklah ringan. Seorang wasit jelas tidak boleh memihak pada satu team, bagaimana jadinya kalau wasit sudah memihak, bisa bisa pertandingan menjadi carut marut bahkan porak poranda. Makna dari tawasuth adalah kita berada di tengah, kalaupun kita berada dalam posisi sebagai pecinta adalah kita cinta alakadarnya, kalau kita jadi pembenci adalah bukan pembenci yang lebay. Begitupun dalam kita berfikir itu tidak terpengaruh oleh pemikiran yang kiri dan kanan. Tetapi kita berada di pemikiran tengah, menimbang nimbang dengan pertimbangan kedua pemikiran tersebut, memadukannya, dan jadi pribaadi yang tawasuth.

*) Tasamuh : Toleran. Peduli terhadap pihak lain yang bahkan yang berlainan dengan persepsi dan bahkan keyakinan kita. Sehingga dengan adanya pemikiran dan sikap yang toleran ini akan menjadikan kita menjadikan kita memahami dan mengerti keanekaragaman. Dan disinilah fungsinya islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Kita tak pernah memaksakan kehendak orang lain dan tak akan memaksa orang lain untuk mengikuti kehendak kita, Cuma saja kita memahami makna kebersamaan, berpadu dalam kebersamaan di atas perbedaan, ya, bhineka tunggal ika. (apa ini yang juga dinamakan pluralisme?)

*) Tawazun : Seimbang. Hampir serupa dengan tawasuth, serupa tapi tak sama. Seimbang adalah tidak berlebihan, tidak alay seperti saya dan tentunya adalah tidak berat sebelah. Ibarat kita jadi timbangan maka kita tak bisa memberatkan satu pihak dan meringankan pihak lain. Seimbang antara dunia dan akhirat, seimbang antara kepentingan pribadi dan bersama.

*) Ta’adul : Adil, artinya tidak berat sebelah juga, tetapi mungkin yang lebih tepat lagi adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Mana mungkin bisa dikatan adil jika seorang ibu memberikan uang saku yang sama banyak antara anaknya yang SD dengan anakanya yang sudah SMA. Iya kan, sama, tidak berat sebelah. Tetapi itu tidak bisa dikatan adil, meletakan sesuatu sesuai dengan maqomnya, memberikan sesuatu berdasarkan kemampuannya. Ah, semacam itu lah.

*) Amar ma’ruf nahi mungkar : Mengajak berbuat baik dan menjauhi kemungkaran. Ingat, bukan amar ma’ruf nyambi munkar yah. Ini merupakan pola pikir dan sikap yang jauh lebih berat dari empat prinsip dasar aswaja di atas. Bagaimana tidak, jika ke empat prinsip di atas masih berkutat di seputar urusan pribadi, sikap diri sendiri, tetapi amar ma’ruf ini adalah lebih mengedepankan orang banyak (Khalayak ramai). Bagaimana mungkin kita akan dipercaya orang jika mengajak berbuat baik sedangkan kita bahkan jarang melakukan perbuatan baik, dan bagaimana mungkin kita mengajak menjauhi kemungkaran sedangkan kita masih melakukan kemungkaran.

Dan dari ke lima prinsip tersebut juga harus berjalan semua, karena akan canggung dan pincang jika salah satu diantaranya terabaikan. Mungkin prinsip aswaja tersebut yang harus dijadikan sebagai pola pikir dan jalan pikiran kita serta landasan dalam kita bersikap, bertindak, dan berbuat. (Faiz Ahsan Riyadi)

Terkait
Terbaru
Nutizen

More Similar Posts

You must be logged in to post a comment.
Menu