Semangat Transformasi IPNU di Momen 67 Tahun

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, adalah organisasi dengan semangat keilmuan yang membawa paket nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU dalam bingkai ikatan. Kesetiaan pada nilai menjadi syarat mutlak untuk bergabung didalamnya, sehingga bertransformasi seperti apapun, IPNU memiliki cukup modal untuk Peradaban Bangsa yang baik. Adalah tugas tak berkesudahan bagi setiap kader atas dialektika keilmuan dengan tetap mentransformasikan nilai-nilai Aswaja pada realitas sosial kemasyarakatan dalam berbangsa dan bernegara.

Ibnu al-haytam atau Alhazen, memperkenalkan konsep transformasi dalam teori geometri. Dengan memetakan kedudukan setiap titik pada posisi awal, yang kemudian disebut objek menjadi posisi baru yang disebut bayangan. Alhazen menyimpulkan ada empat jenis transformasi yaitu translasi, refleksi, rotasi dan dilatasi.

Selain matematika, transformasi diartikan sebagai perubahan yang merujuk pada perubahan rupa baik struktur, sifat ataupun fungsi. Sementara dalam matematika, hanya transformasi dilatasi yang mengalami perubahan ukuran dengan bentuk tetap. Selain itu semua transformasi menghasilkan bayangan yang sama dengan objek.

Semangat transformasi yang diusung IPNU pada momentum 67 Tahun ini harus menjadi semangat baru untuk membangun peradaban bangsa, yang mandiri dan bermartabat. Dengan merujuk teori transformasi Alhazen, perubahan zaman seperti apapun tidak akan menggerus nilai dan menyurutkan perjuangan NU. Sehingga pada momentum ini sekiranya semua kader IPNU perlu:

Pertama, refleksi dalam arti bercermin terutama belajar dari masa lalu (sejarah). Sejauh mana pemahaman terhadap sejarah adalah sejauh itulah gambaran kemampuan mempersiapkan masa yang akan datang. Mari memulai dengan bercermin pada diri masing-masing, bayangkan dan tanyakan juga sudah berapa banyak yang bergabung dalam ikatan ini selama 67 tahun? Sedetail apa pemetaan kita dan organisasi terhadap siapa-siapa dan apa-apa saja yang sudah bergabung dan dilakukan selama 67 tahun. Meski disadari atau tidak, diketahui atau tidak, IPNU sudah pasti berperan dan andil dalam membangun peradaban bangsa.

Kedua, translasi atau pergeseran dengan melakukan gerakan massif terstruktur dan total. IPNU sebagai gerbong besar transformasi nilai dan kesadaran harus mampu membentengi pelajar dan meluruskan generasi muda agar tidak terjebak pada pragmatisme jangka pendek atas jebakan implikatif arus besar kapitalisme yang berefek pada menumpulnya imaji kolektif dalam memajukan bangsa ditengah semrawudnya sistem dan kultur pendidikan yang cenderung membodohkan.

Pandemi Covid-19 semakin menunjukan bahwa lingkungan pendidikan kita belum cukup mampu menciptakan atmosfir intelektual yang kondusif. IPNU berpeluang besar dalam keikutsertaan dalam pengembangan pelajar yang lebih kreatif dan imajinatif tanpa belenggu sistem pendidikan kaku yang terstruktur secara formal-prosedural, namun jauh dari spirit filosofis pendidikan itu sendiri. Bagaimanapun, pendidikan merupakan anasir terpenting dari bagian “blueprint” sebuah peradaban. Setidaknya melalui pendidikan yang baik, minimal terjadi persambungan antara masa lalu dan sekarang sehingga waspada dengan masa depan. Dimana seharusnya pemerintah, sebagai pengurus negara, menanggung amanat konstitusi mengemban tanggungjawab keseluruhan kualitas pendidikan untuk semua warga negara tanpa kecuali.

Sebuah pekerjaan yang mau tidak mau IPNU harus ikut berdinamika mencari formula solutif terutama untuk pemulihan pendidikan nasional yang sedang dalam kondisi tidak berdaya. Betapapun hanya memberi dampak kecil, selagi membawa perubahan positif harus tetap dikreasikan dan terus dilakukan. Karena memang problem yang ada tidak serta merta dapat dijawab dan dicarikan jalan keluar, sebaliknya juga bukan tidak mungkin untuk diatasi. Oleh karena itu, IPNU sebagai organisasi Pelajar tidak memiliki pilihan lain untuk ditawar, sehingga IPNU sebagai organisasi harus selalu mendinamisir khasanah keilmuan yang menjadikan ilmu dan pengetahuan sebagai mercusuar dan pondasi utama.

Ketiga, rotasi atau perputaran sebagaimana semangat yang tergambar dalam bulatan logo IPNU. Kontinuitas yang terejawantah dalam kesadaran menuju perubahan sosial dan budaya menuju keadilan, kesejahteraan, kesetaraan dan kemakmuran bangsa. Terus menerus berbuat meski kecil adalah pilihan terakhir ketika translasi gagal ditempuh karena bagaimanapun, sejarah mencatat perubahan semacam ini pernah berhasil dengan gerakan yang tidak dalam cakupan besar dan luas, melainkan kecil namun intens dan bermakna. Perubahan yang harus dipahami sebagai gerakan budaya yang syaratnya terbebas dari kehendak serba kuasa dan nafsu oligarki.

Gerakan ini harus dirancang secara sadar untuk tujuan jangka panjang. Gerakan ini harus pula dipahami sebagai suatu proses yang tak pernah selesai dan selalu bermula kembali, bukan suatu gerakan khalayak sesaat tanpa titik-tolak dan jati diri yang jelas.

Keempat, adalah dilatasi atau memperhitungkan skala. Memahani betul universalitas, merangkum dunia untuk memaksimalkan kolektifitas. Membuat potret keadaan diluar IPNU menjadi dinamika dan pembelajaran didalam organisasi. Sehingga setiap dan semua kader memiliki bekal dan kesiapan menghadapi apapun diluar IPNU.

Selamat ulang tahun ke 67, ikatanku.

Kebenaran adalah pertentangan dan perdebatan tiada akhir. Yang paling penting dari apa yang kita anggap benar, sebenarnya adalah dampak kebaikan jika itu diterapkan, dalam skala apapun. Karena kebaikan dan manfaat yang bisa dirasakan adalah, sesungguhnya dinantikan dari segala narasi yang ada.

Aswaja, adalah paket nilai yang tidak hanya berisi kebenaran, melainkan kebaikan juga keindahan. Sehingga NU bisa kita analogikan sebagai tukang paket. Dan tidak ada orang, siapapun itu, meng-order paket yang jelek atau salah. Jika ada paketan datang, dan isinya rusak, kalau itu barang bisa saja bukan salah pihak expedisi melainkan sudah rusak sebelum dikemas. Berbeda dengan Islam yang sumbernya dari Allah SWT, sudah pasti benar, maka besar kemungkinan kesalahan ada pada tukang paket.

Jadi, konsekuensi ber-NU adalah mengemban amanat paket nilai yang jangan sampai tercemar, rusak apalagi bisa sampai salah tujuan atau orientasi. Untuk semua pengurus, kader dan anggota IPNU, mari belajar mengemas paket nilai ini dengan baik.

_

Catatan Syaeful Kamaludin (Ketua PW IPNU Jawa Tengah)
24 Februari 2021

adminipnujat

adminipnujat

Leave a Reply

Open chat
Butuh Bantuan?
Haiii.. Selamat datang di Website Resmi PW IPNU Jawa Tengah dan 180 Channel (IPNU Jateng Media Coorporation)

Ada yang bisa Admin bantu?

Info lebih lanjut silahkan klik tombol Open Chat